Breaking News
light_mode
Beranda » News » Indonesia Negara Agraris, Kenapa Begitu Sulit Mewujudkan Swasembada Daging Sapi?

Indonesia Negara Agraris, Kenapa Begitu Sulit Mewujudkan Swasembada Daging Sapi?

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jakarta, Strategynews.id – Berstatus sebagai negara agraris, Indonesia masih sangat bergantung pada impor daging sapi maupun kerbau. Angka impor, bahkan terus menunjukan tren kenaikan dari tahun ke tahun.

Mengacu pada data sementara yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Buletin Statistik Perdagangan Luar Negeri Impor edisi Desember 2022, Indonesia tercatat mendatangkan lebih dari 205 ribu ton daging lembu (bovine meat) sepanjang 2022.

Jumlah tersebut menunjukkan penurunan sekitar 70 ribu ton jika dibandingkan dengan total impor pada 2021.

Selama periode 2017–2022, India dan Australia menjadi dua negara pemasok utama daging lembu ke Indonesia. Namun, BPS mencatat adanya perubahan tren pada 2022 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Jika pada 2017–2021 pasokan terbesar berasal dari Australia, maka pada 2022 posisi dominan justru diambil alih oleh India yang berasal dari daging kerbau.

Angka impor daging tersebut belum menghitung impor atas sapi bakalan yang kemudian digemukkan di dalam negeri.  

Pengusaha sapi lokal yang juga pendiri peternakan terintegrasi Ranca Bukit Waru Wangi Serang, Siswono Yudo Husodo, mengungkapkan besarnya volume impor daging sapi Indonesia bak ironi, mengingat potensi pakan hijauan di negara ini sangat besar.

Menurut Siswono, masalah pelik budidaya sapi skala masif di Indonesia terletak pada masalah pembibitan (breeding), bukan soal pakan. Di sektor breeding, Indonesia sangat tertinggal jauh dibanding negara-negara pengekspor daging.

“Minat peternak melakukan breeding rendah. Populasi turun terus. Dampaknya impor makin besar,” ujar Siswono Yudo Husodo, dikutip Selasa (25/11/2025).

Ia menegaskan, tanpa insentif nyata, mulai dari inseminasi buatan atau IB gratis, bonus kelahiran, hingga akses penggembalaan, Indonesia akan sulit keluar dari lingkaran impor daging.

“Kalau kita tidak lakukan langkah konkret, populasi tidak akan tumbuh. Itu pasti,” kata Siswono. Ia sendiri sudah menerapkan pola peternakan modern di Serang, Banten, yang sebenarnya mudah diduplikasi di daerah-daerah lainnya di Indonesia. 

Di Bukit Waru Wangi, sistem ranch, yang jarang ditemui di Indonesia, mulai diterapkan. Di mana kerbau dan sapi dilepas di padang hijau, dengan latar Selat Sunda, Krakatau, dan Pasir Angin.

Asalkan ada kemauan pemerintah, tanah-tanah luas terlantar bisa disulap menjadi ranch sapi. Pola peternakan seperti ini juga menghemat pengeluaran pakan. Ranch juga cocok diterapkan untuk peternakan kerbau.

“Mayoritas peternak kita masih cut and carry. Sulit bersaing. Yang menang adalah yang bisa produksi murah dan berkualitas. Sistem paling efisien itu ranch,” beber Siswono.

“Dan kerbau? Ini sudah kondisi SOS (darurat). Kalau tidak ada langkah tegas, lima tahun lagi kerbau Indonesia bisa punah,” kata dia lagi.

Langkah Kementan

Sementara itu, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan, Harry Suhada, menegaskan bahwa hulu peternakan harus jadi fokus utama, salah satunya breeding.

“Breeding itu fondasi. Tidak bisa digantikan. Kalau hulu lemah, populasi tidak akan pernah naik,” kata Harry.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian, lanjutnya, sedang menyusun skema insentif lebih kuat untuk memperbaiki sektor perbibitan nasional. Terlebih angka konsumsi daging sapi terus mengalami kenaikan.

Menurut BPS, konsumsi protein hewani Indonesia hanya 10,5 kg/kapita/tahun, jauh dari standar 15 kg. Rinciannya daging sapi 2,2 kg/kapita dan daging ayam 8,3 kg/kapita.

Bandingkan dengan angka konsumsi daging Malaysia yang konsumsi per kapita daging sapi 5,72 kg/kapita dan daging ayam 50,48 kg/kapita. 

Selain itu, Indonesia juga punya potensi besar dalam pengembangan peternakan kerbau. Kerbau sebenarnya sangat efisien dalam mengubah pakan kasar menjadi daging berkualitas tinggi. Di saat biaya pakan bisa mencapai 70 persen dari total biaya produksi, hewan ini seharusnya jadi aset strategis.

Dari sisi nutrisi, daging kerbau bahkan lebih tinggi protein, namun lebih rendah lemak dan kolesterol. Yang jadi masalah, populasi kerbau di Indonesia justru merosot drastis. Pada tahun 2000 populasi kerbau mencapai 2,4 juta ekor, namun pada tahun 2022 anjlok jadi 1,37 juta ekor.

Malahan pada 1970-an, Indonesia pernah mengekspor sapi. Sekarang 30 persen kebutuhan daging di dalam negeri disuplai dari Australia dan India. Indonesia bahkan terancam kehilangan kerbau sebagai plasma nutfah bangsa.

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menghadapi Keterjangkitan: Manajemen Risiko di Era Ketergantungan Digital

    Menghadapi Keterjangkitan: Manajemen Risiko di Era Ketergantungan Digital

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Manajemen risiko adalah proses identifikasi, analisis, dan mitigasi risiko yang dapat mempengaruhi kegiatan atau proses bisnis. Umumnya, perusahaan besar memiliki tim khusus untuk menangani manajemen risiko. Berdasarkan data, sekitar 60% perusahaan mengalami kerugian karena tidak memiliki manajemen risiko yang efektif. Manajemen risiko adalah proses sistematis untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola risiko yang dapat […]

  • Menghemat Biaya dengan Efisiensi Teknologi

    Menghemat Biaya dengan Efisiensi Teknologi

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Efisiensi teknologi merujuk pada kemampuan sistem atau alat untuk mencapai hasil maksimal dengan menggunakan sumber daya yang minimum. Umumnya, efisiensi teknologi dapat meningkatkan produktivitas sebesar 20-30%. Hal ini berdasarkan data bahwaImplementasi teknologi yang tepat dapat mengurangi biaya operasional. Efisiensi teknologi adalah penerapan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan menghemat biaya dalam berbagai aspek bisnis […]

  • Mengapa Toko Online “Papansalat” Mengalami Pertumbuhan 300% dengan Model Bisnis Baru ‘Orderan Langsung ke Petani

    Mengapa Toko Online “Papansalat” Mengalami Pertumbuhan 300% dengan Model Bisnis Baru ‘Orderan Langsung ke Petani

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Model bisnis baru adalah struktur bisnis yang inovatif dan berbeda dengan model bisnis tradisional, umumnya dikembangkan dalam respondi terhadap perubahan pasar dan teknologi dengan kecepatan tinggi, berdasarkan data menunjukkan bahwa 70% dari bisnis sukses adalah perusahaan yang berhasil melakukan transformasi digital. Mengapa Toko Online “Papansalat” Mengalami Pertumbuhan 300% dengan Model Bisnis Baru ‘Orderan […]

  • Membaca Peta Politik Indonesia untuk Pemilu yang Lebih Bijak

    Membaca Peta Politik Indonesia untuk Pemilu yang Lebih Bijak

    • calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Peta politik adalah representasi visual dari distribusi dan dinamika kekuatan politik dalam suatu wilayah. Umumnya, peta politik mencakup informasi tentang partai politik, pemilu, dan kebijakan pemerintah. Berdasarkan data, sekitar 80% negara di dunia menggunakan sistem pemilu yang beragam. Peta Politik: Pengertian, Manfaat, dan Cara Kerjanya dalam Konteks Pemilu Peta politik merupakan alat analisis […]

  • Menghadap Presiden, Menteri ESDM Laporkan Target Listrik Desa hingga Swasembada Solar

    Menghadap Presiden, Menteri ESDM Laporkan Target Listrik Desa hingga Swasembada Solar

    • calendar_month Rabu, 5 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta,  Strategynews.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan hasil rangkaian kunjungan kerja ke beberapa daerah, termasuk wilayah Sulawesi. strategis kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (3/11). Laporan tersebut mencakup progres program listrik desa, produksi minyak nasional, serta kesiapan menuju kedaulatan energi. “Tadi saya melapor kepada Bapak Presiden, […]

  • Pemerintah Mau Menghapus Semua Tunggakan Iuran BPJS Kesehatan

    Pemerintah Mau Menghapus Semua Tunggakan Iuran BPJS Kesehatan

    • calendar_month Jumat, 10 Okt 2025
    • account_circle Jamil F.J.
    • 0Komentar

    Jakarta, Strategy News- Pemerintah berencana menghapus semua tunggakan  iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ( BPJS ) Kesehatan.Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan rencana itu sedang dipertimbangkan pemerintah. Menurutnya, pemerintah masih perlu memverifikasi data. “Sedang dipelajari dulu, dihitung dulu. Ada rencana seperti itu, tapi mohon waktu karena itu kan pasti harus dihitung. Datanya juga harus operasi, […]

expand_less