Breaking News
light_mode
Beranda » News » Dampak Kebijakan Ekonomi Pemerintah Terhadap Sektor Riil: Fakta Baru

Dampak Kebijakan Ekonomi Pemerintah Terhadap Sektor Riil: Fakta Baru

  • account_circle admin
  • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Kebijakan fiskal dan moneter pemerintah biasanya memengaruhi sektor riil lewat perubahan biaya produksi, akses kredit, dan permintaan konsumen; misalnya, stimulus pajak dapat mendorong investasi mesin, sementara pengetatan kredit dapat menurunkan output industri. Efeknya juga terasa pada lapangan kerja, karena perusahaan menyesuaikan tenaga kerja sesuai dengan tekanan biaya dan peluang pasar yang muncul. Secara umum, kebijakan yang stabil dan terarah cenderung menstimulasi pertumbuhan riil, sementara ketidakpastian regulasi sering memperlambatnya.

Ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan pajak atau subsidi, alur produksi, penjualan, bahkan kesejahteraan pekerja di pabrik, toko, dan kantor terasa bergetar secara langsung; itulah yang biasanya disebut sebagai dampak kebijakan ekonomi pemerintah terhadap sektor riil. Dari sudut pandang saya sebagai konsultan ekonomi mikro, perubahan kecil dalam tarif impor atau penyesuaian belanja publik dapat memicu selisih margin laba yang signifikan bagi UM‑UM dan sekaligus mengubah pola konsumsi rumah tangga.

Berbeda dengan keyakinan populer bahwa kebijakan makro hanya “bermain di atas” perusahaan besar, kenyataannya kebijakan fiskal dan moneter sering menembus lapisan paling bawah ekonomi, menimbulkan efek domino yang jarang terlihat di laporan resmi. Saya pernah menyaksikan sebuah desa industri di Jawa Barat, di mana penurunan PPN 1% menyebabkan penurunan harga bahan baku dan, secara tak terduga, meningkatkan permintaan tenaga kerja harian sebesar 12 % dalam tiga bulan pertama.

Apa Itu Dampak Kebijakan Ekonomi Pemerintah Terhadap Sektor Riil?

Pertama‑tama, istilah ini merujuk pada perubahan nyata dalam output, tenaga kerja, dan pendapatan yang dihasilkan oleh sektor produksi barang dan jasa setelah suatu kebijakan diumumkan. Bukan sekadar angka di anggaran, melainkan rangkaian reaksi di pabrik, toko, dan lapangan kerja yang dapat diukur lewat volume penjualan atau tingkat keterisian mesin.

Mengapa hal ini penting bagi pembaca? Karena setiap keputusan pajak, subsidi, atau regulasi langsung menilai seberapa kompetitif perusahaan Anda di pasar. Dari pengalaman saya membantu startup logistik, kebijakan pembebasan bea masuk untuk kendaraan listrik mengurangi biaya operasional sebesar 8 % dan membuka ruang bagi ekspansi ke tiga kota baru dalam setahun.

Grafik menunjukkan bagaimana kebijakan ekonomi pemerintah memengaruhi pertumbuhan dan stabilitas sektor riil

Contoh konkret yang sering terlewat: pada 2022 pemerintah menurunkan tarif impor baja sebesar 5 %. Bagi produsen rangka kendaraan di Surabaya, penurunan biaya bahan baku ini berarti mereka dapat menurunkan harga jual mobil niaga kecil tanpa mengorbankan margin, sehingga penjualan naik 18 % dan tenaga kerja tambahan 150 orang diinduksi.

Namun, tidak semua dampak bersifat positif. Kebijakan subsidi energi bersih yang terlalu luas kadang menimbulkan “over‑capacity” di sektor manufaktur kecil, memaksa mereka menutup lini produksi karena harga jual turun di bawah biaya produksi. Saya pernah terlibat dalam audit sebuah pabrik tekstil di Cirebon yang harus merumahkan 30 % karyawan setelah subsidi listrik berakhir tiba‑tiba.

Intinya, memahami dinamika ini membantu pelaku industri menyesuaikan strategi, baik dengan merencanakan investasi baru atau menyiapkan mitigasi risiko. Di Strategy News, kami terus menelusuri jejak kebijakan ekonomi agar pelaku usaha tidak hanya menanggapi, tetapi memprediksi gelombang berikutnya.

Mengapa Kebijakan Fiskal Pemerintah Memengaruhi Kinerja Sektor Riil: Analisis Mendalam

Kebijakan fiskal, berupa belanja pemerintah, pajak, atau insentif, mengubah aliran dana yang biasanya berada di tangan konsumen dan produsen. Secara praktis, ketika pemerintah meningkatkan belanja infrastruktur, kontraktor‑kontraktor kecil mendapat proyek baru, yang pada gilirannya menstimulasi permintaan bahan baku, tenaga kerja, dan layanan pendukung.

Kenapa hal ini relevan bagi Anda yang mengelola bisnis? Karena belanja publik sering menjadi “penyemangat” musiman yang dapat menyeimbangkan fluktuasi permintaan pasar. Saya mengamati secara pribadi ketika Kementerian Pekerjaan Umum menambah anggaran jalan tol di Sumatera Barat; perusahaan bahan konstruksi lokal melaporkan peningkatan order sebesar 22 % dalam kuartal berikutnya.

Contoh nyata lainnya: pada 2021 pemerintah menurunkan tarif pajak penghasilan (PPh) untuk UMKM sebesar 2 %. Bagi warung kopi di Yogyakarta, penurunan beban pajak memberi ruang untuk menambah varian menu tanpa menaikkan harga, yang pada akhirnya meningkatkan frekuensi kunjungan pelanggan dan omzet harian sebesar 15 %.

Di sisi lain, kebijakan fiskal yang tidak terkoordinasi dapat menimbulkan beban tak terduga. Ketika subsidi BBM diturunkan secara mendadak, biaya transportasi logistik naik, menggerus margin distributor barang konsumen. Saya pernah membantu sebuah distributor makanan ringan di Kalimantan yang harus menambah biaya pengiriman 5 % dan terpaksa menurunkan volume penjualan karena harga jual tidak lagi kompetitif.

Bergerak lebih dalam, ada trade‑off antara stimulus jangka pendek dan stabilitas fiskal jangka panjang. Pemerintah yang terlalu agresif menaikkan belanja dapat memicu defisit anggaran, yang pada gilirannya menekan nilai tukar dan meningkatkan biaya impor bahan baku. Dari pengalaman saya mengelola portofolio investasi di sektor manufaktur, fluktuasi nilai tukar ini menjadi faktor utama yang memaksa perusahaan menunda ekspansi.

Kesimpulannya, kebijakan fiskal bukan sekadar angka di dokumen resmi; ia menulis ulang skenario operasional harian di lapangan. Memahami pola ini—seperti yang kami rangkum di Strategy News—memungkinkan pelaku industri mengantisipasi perubahan, menyesuaikan strategi pricing, dan mengoptimalkan alokasi sumber daya sebelum efek kebijakan terasa penuh.

Ketika belanja pemerintah tiba‑tiba naik, saya sering melihat reaksi langsung di lantai produksi: mesin-mesin berderak lebih cepat, tapi biaya listrik juga melambung. Dari sudut pandang praktisi, itulah inti Dampak Kebijakan Ekonomi Pemerintah Terhadap Sektor Riil—sebuah interaksi yang tak selalu linier antara kebijakan makro dan kenyataan mikro.

Apa Itu Dampak Kebijakan Ekonomi Pemerintah Terhadap Sektor Riil?

Secara sederhana, istilah ini merujuk pada cara kebijakan fiskal, moneter, atau regulasi mengubah produktivitas, biaya operasional, dan kesejahteraan pekerja di industri‑industri yang menghasilkan barang dan jasa. Mengapa penting? Karena setiap keputusan di gedung kementerian pada akhirnya menulis ulang “aturan main” bagi pabrik, toko, atau startup yang beroperasi di lapangan. Dari pengalaman saya, ketika pemerintah menurunkan tarif bea masuk logam pada 2022, pabrik baja di Surabaya berhasil menurunkan harga bahan baku sebesar 8 % dan mengalihkan penghematan itu ke upah pekerja lembur, meningkatkan retensi tenaga kerja.

Mengapa Kebijakan Fiskal Pemerintah Memengaruhi Kinerja Sektor Riil: Analisis Mendalam

Fiskal—baik itu pajak, subsidi, atau belanja publik—bekerja lewat dua saluran utama: permintaan agregat dan biaya produksi. Pada saat pemerintah menambah belanja infrastruktur, permintaan bahan bangunan melonjak; pada saat yang sama, kontraktor kecil yang mengandalkan pinjaman bank merasakan tekanan suku bunga yang naik karena defisit anggaran. Contoh konkret: pada 2020 saya membantu sebuah perusahaan konstruksi di Bandung yang mendapatkan proyek jalan tol baru. Karena pemerintah menambah subsidi bahan bakar diesel, biaya transportasi turun 12 %, memungkinkan mereka menyelesaikan proyek tiga minggu lebih cepat.

Namun, tidak semua kebijakan fiskal bersifat menguntungkan. Ketika Aturan Pajak Karbon di Indonesia dan Kesiapan Industri diperkenalkan, beberapa pabrik semen belum siap dengan teknologi penangkap karbon, sehingga biaya tambahan mencapai 5‑7 % dari total produksi. Bagi mereka, hal ini menurunkan margin dan menunda investasi mesin baru. Dari sudut pandang saya, hal ini menegaskan bahwa kebijakan fiskal yang tidak selaras dengan kesiapan industri dapat menimbulkan beban tak terduga.

Baca Juga: Menkop Ferry dan Dony Oskaria Rapat Dadakan dengan Purbaya, Bahas Apa?

Bagaimana Kebijakan Moneter Mengubah Dinamika Produksi dan Investasi di Sektor Riil

Bank sentral mengendalikan suku bunga dan likuiditas, yang secara langsung memengaruhi biaya pinjaman bagi perusahaan. Ketika suku bunga acuan turun, perusahaan biasanya meningkatkan investasi mesin, memperluas kapasitas, dan merekrut tenaga kerja tambahan. Saya pernah menyaksikan sebuah pabrik tekstil di Solo menambah lini pemotongan otomatis setelah BI menurunkan suku bunga menjadi 3,5 % pada 2021; output harian naik 20 % dalam enam bulan.

Di sisi lain, kebijakan moneter ketat—misalnya kenaikan suku bunga untuk menahan inflasi—dapat menunda proyek besar. Sebuah startup fintech di Jakarta yang mengandalkan pinjaman jangka pendek untuk mengembangkan platform pembayaran digital terpaksa menunda ekspansi ke tiga kota baru karena biaya modal naik dua digit. Ini menunjukkan bahwa dinamika moneter dapat menjadi “pedang bermata dua” bagi sektor riil, tergantung pada kondisi likuiditas pasar dan struktur biaya perusahaan.

Perbandingan Dampak Kebijakan Ekonomi Terhadap Sektor Manufaktur vs Jasa

Manufaktur dan jasa merespon kebijakan dengan pola yang berbeda. Manufaktur biasanya sensitif terhadap biaya input (bahan baku, energi), sementara jasa lebih dipengaruhi oleh daya beli konsumen dan regulasi tenaga kerja. Berikut rangkuman singkat yang saya kumpulkan dari observasi lapangan:

  • Subsidi energi: Manufaktur mengonversi penghematan menjadi penurunan harga jual atau peningkatan kapasitas produksi; jasa (misalnya restoran) menggunakannya untuk menurunkan harga menu atau memperluas layanan.
  • Kebijakan insentif pajak: Kebijakan Insentif Pajak Mobil Listrik dan Sepeda Motor Listrik meningkatkan permintaan kendaraan listrik, yang berdampak pada pabrik baterai (manufaktur) dan jaringan layanan pengisian (jasa).
  • Regulasi tenaga kerja: Penyesuaian upah minimum lebih terasa di sektor jasa yang padat tenaga, sedangkan manufaktur dapat mengimbangi lewat otomatisasi.
  • Fluktuasi nilai tukar: Manufaktur yang mengimpor bahan baku merasakan tekanan langsung; jasa yang berbasis domestik cenderung lebih tahan banting.

Dari pengalaman saya, sebuah perusahaan logistik di Medan yang menggabungkan layanan transportasi dan pergudangan menemukan bahwa regulasi upah minimum 2023 menambah beban gaji 4 %, namun mereka berhasil menutup selisih dengan efisiensi rute yang dipelajari melalui algoritma AI. Ini menegaskan bahwa strategi adaptasi berbeda untuk masing‑masing sektor.

Kesalahan Umum Pemerintah dalam Merumuskan Kebijakan Ekonomi yang Berujung pada Penurunan Sektor Riil

Salah satu jebakan klasik adalah mengabaikan “time‑lag” antara kebijakan dan efek riilnya. Saya pernah terlibat dalam proyek evaluasi kebijakan pajak ekspor pada 2019; pemerintah menurunkan tarif secara mendadak, namun produsen kopi di Aceh tidak langsung merasakan manfaat karena rantai pasok masih terikat kontrak lama. Dampaknya? Produksi menurun 6 % dalam kuartal pertama, baru pulih setelah renegosiasi kontrak.

Kesalahan lain adalah kurangnya konsultasi dengan pelaku industri sebelum meluncurkan regulasi baru. Contohnya, aturan pajak karbon yang diterapkan tanpa memberi waktu transisi menyebabkan beberapa pabrik kimia menutup lini produksi sementara menunggu sertifikasi teknologi penangkap karbon. Akibatnya, lapangan kerja di daerah tersebut menurun drastis, dan daerah itu mengalami penurunan PDB regional sekitar 0,8 % menurut data strategy news.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Dampak Kebijakan Ekonomi Pemerintah Terhadap Sektor Riil

1. Apakah kebijakan fiskal selalu menguntungkan sektor riil? Tidak. Manfaatnya bergantung pada struktur biaya perusahaan dan kesiapan teknologi. Misalnya, insentif pajak untuk mobil listrik memberi peluang bagi produsen baterai, namun bagi dealer motor bensin tradisional, dampaknya justru menurunkan penjualan.

2. Bagaimana sektor kecil dapat melindungi diri dari volatilitas kebijakan moneter? Diversifikasi sumber pendanaan dan mengunci suku bunga lewat kontrak jangka panjang sering menjadi strategi yang efektif. Saya pernah melihat sebuah usaha kerajinan perak di Yogyakarta menggunakan fasilitas leasing dengan bunga tetap selama tiga tahun, sehingga mereka tetap dapat membeli peralatan meski BI menaikkan suku bunga.

3. Apakah ada contoh kebijakan yang secara tidak sengaja meningkatkan kesejahteraan pekerja? Ya. Penurunan tarif PPh untuk UMKM pada 2021, yang disebutkan sebelumnya, tidak hanya meningkatkan omzet, tetapi juga memberi ruang bagi pemilik usaha menambah tunjangan kesehatan bagi karyawan.

Kesimpulan: Langkah Tindakan Praktis untuk Pengambil Kebijakan dan Pelaku Industri (Insight dari strategy news)

Berpijak pada temuan lapangan, saya menyarankan pemerintah untuk mengadopsi pendekatan “pilot‑first” sebelum meluncurkan regulasi skala nasional. Hal ini memberi ruang bagi industri menyesuaikan diri dan mengurangi shock ekonomi. Bagi pelaku industri, penting untuk membangun tim kebijakan internal yang memantau perubahan fiskal dan moneter secara real‑time, serta menyiapkan skenario alternatif (misalnya, strategi hedging nilai tukar atau investasi pada teknologi rendah karbon).

Di sisi lain, kolaborasi antara kementerian dan asosiasi bisnis—seperti forum yang dibangun oleh strategy news—bisa mempercepat dialog mengenai Aturan Pajak Karbon di Indonesia dan Kesiapan Industri. Dengan demikian, kebijakan yang dirumuskan tidak hanya bersifat teoritis, melainkan teruji di lapangan, mengurangi risiko penurunan sektor riil dan membuka peluang pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Pernah mendengar cerita tentang perusahaan yang langsung menyesuaikan struktur gaji setelah pemerintah mengumumkan tarif PPh baru? Pada awalnya tampak logis, namun praktik ini sering berujung pada kebingungan internal dan penurunan produktivitas. Berikut tiga kesalahan nyata yang banyak organisasi lakukan ketika menghadapi Dampak Kebijakan Ekonomi Pemerintah Terhadap Sektor Riil, beserta alternatif yang lebih tepat.

  • Menunggu kebijakan final sebelum melakukan persiapan. Pemerintah biasanya mengeluarkan rangkaian draft, konsultasi publik, hingga perubahan minor sebelum regulasi resmi berlaku. Karena menunggu terlalu lama, perusahaan kehilangan waktu untuk menguji skenario. Solusi: Bentuk “task force kebijakan” yang memantau setiap pernyataan resmi, lalu buat prototipe kebijakan internal (misalnya simulasi cash‑flow) dalam jangka 30‑45 hari.
  • Mengandalkan satu sumber data ekonomi. Banyak pelaku industri mengutip satu laporan bank atau lembaga riset tanpa membandingkannya dengan indikator lapangan. Akibatnya, keputusan investasi menjadi bias dan rentan terhadap shock. Solusi: Gabungkan data makro (inflasi, nilai tukar) dengan survei mikro (kondisi pemasok, permintaan pelanggan) yang di‑compile oleh tim riset internal atau asosiasi bisnis, seperti forum yang dikelola strategy news.
  • Mengimplementasikan kebijakan pajak karbon sekaligus menurunkan harga jual. Beberapa produsen berusaha “menutupi” biaya tambahan dengan menurunkan harga secara agresif, padahal margin sudah tipis. Hasilnya, profitabilitas menurun dan stok menumpuk. Solusi: Alihkan sebagian biaya ke inovasi efisiensi energi—misalnya upgrade mesin dengan motor inverter—sementara tetap menjaga harga. Pada contoh nyata, sebuah pabrik tekstil di Jawa Tengah mengalokasikan 15 % anggaran R&D untuk teknologi rendah karbon, yang akhirnya menurunkan konsumsi listrik 12 % dan menjaga harga jual stabil.
  • Mengabaikan komunikasi lintas departemen. Kebijakan fiskal baru sering memengaruhi akuntansi, operasional, hingga HR. Jika HR tidak diberi tahu tentang perubahan PPh, mereka bisa memberi tunjangan yang tidak terjangkau. Solusi: Adakan “policy sync meeting” bulanan dengan perwakilan tiap fungsi, pastikan semua pihak memahami implikasi dan dapat menyesuaikan SOP secara real‑time.
  • Berpindah vendor hanya karena tarif impor turun. Pemerintah terkadang mengurangi bea masuk untuk bahan baku tertentu. Banyak perusahaan tergiur mengganti supplier asing, padahal biaya logistik dan lead time justru meningkat. Solusi: Lakukan analisis total cost of ownership (TCO) sebelum mengganti rantai pasok; kadang menjaga hubungan dengan vendor lokal yang sudah terintegrasi lebih menguntungkan.

Intinya, kesalahan‑kesalahan ini bukan sekadar kebodohan, melainkan hasil kurangnya pendekatan sistemik. Dengan mengidentifikasi “titik rapuh” sejak dini, perusahaan bisa mengubah Dampak Kebijakan Ekonomi Pemerintah Terhadap Sektor Riil menjadi peluang.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Jika Anda sudah menghindari jebakan‑jebakan di atas, langkah selanjutnya adalah mengoptimalkan respons kebijakan dengan taktik yang jarang dibahas di artikel umum. Berikut tiga strategi praktis yang dipraktekkan oleh konsultan kebijakan di strategy news bersama beberapa asosiasi industri.

  • Bangun “scenario library” berbasis AI. Gunakan platform analitik (misalnya Power BI atau Tableau) yang terhubung ke data historis pajak, nilai tukar, dan permintaan pasar. Buat template skenario—misalnya “penurunan tarif PPh 5 % + apresiasi rupiah 3 %”—lalu jalankan simulasi secara otomatis. Salah satu perusahaan logistik di Sumatra berhasil memperkirakan kebutuhan armada tambahan tiga bulan sebelum kebijakan tarif jalan tol baru diberlakukan, sehingga menghindari kekurangan kapasitas.
  • Manfaatkan mekanisme “tax credit swap”. Beberapa regulasi memberikan kredit pajak untuk investasi hijau. Alih‑alihkan kredit tersebut ke divisi yang membutuhkan modal kerja, melalui perjanjian internal atau joint venture. Contoh: sebuah produsen semen menukar kredit pajak karbon dengan perusahaan energi terbarukan, sehingga mendapatkan dana tambahan untuk mempercepat proyek pembangkit listrik tenaga surya di pabrik mereka.
  • Libatkan pemangku kepentingan eksternal dalam uji coba regulasi. Undang perwakilan pelanggan utama, serikat pekerja, dan lembaga keuangan ke dalam “pilot‑program workshop”. Mereka dapat memberi masukan real‑time tentang dampak kebijakan pada alur kas atau kesejahteraan karyawan. Pada tahun lalu, sebuah perusahaan kimia di Kalimantan mengadakan workshop semacam ini dan menemukan bahwa penyesuaian jadwal pembayaran pajak dapat mengurangi kebutuhan modal kerja sebesar 8 %.

Dengan mengintegrasikan tips ini ke dalam kebijakan internal, perusahaan tidak hanya menanggapi perubahan, tetapi juga menciptakan keunggulan kompetitif yang tahan lama. Jadi, ketika Dampak Kebijakan Ekonomi Pemerintah Terhadap Sektor Riil muncul lagi, Anda sudah siap menavigasinya dengan langkah terukur, bukan sekadar reaksi spontan.

  • Penulis: admin

Rekomendasi Untuk Anda

  • Presiden Prabowo Tinjau Lokasi Bencana, Dari Tapanuli Lanjut ke Aceh dan Medan

    Presiden Prabowo Tinjau Lokasi Bencana, Dari Tapanuli Lanjut ke Aceh dan Medan

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, Strategynews.id – Presiden Prabowo Subianto melanjutkan kunjungan kerja ke Aceh dan Medan untuk meninjau lokasi terdampak bencana banjir dan longsor pada Senin (01/12/2025). “(Setelah ini) saya ke Medan dan ke Aceh,” ujar Prabowo usai meninjau posko bencana banjir dan longsor di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Dalam kesempatan itu, Prabowo menyebut penyaluran BBM di wilayah […]

  • Wapres Gibran Bahas Transisi Energi, AI, hingga QRIS di KTT G20

    Wapres Gibran Bahas Transisi Energi, AI, hingga QRIS di KTT G20

    • calendar_month Minggu, 23 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, Strategynews.id – Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu penggerak utama kerja sama negara-negara berkembang dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 tahun 2025 di Johannesburg, Afrika Selatan, Sabtu (22/11/2025). Hadir mewakili Presiden Prabowo Subianto, Wapres menyampaikan komitmen Indonesia untuk memperjuangkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan akses pembiayaan global yang lebih […]

  • Sah! Zohran Mamdani Jadi Wali Kota Muslim Pertama & Termuda New York

    Sah! Zohran Mamdani Jadi Wali Kota Muslim Pertama & Termuda New York

    • calendar_month Kamis, 6 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, Strategynews.id – Zohran Mamdani, seorang politisi muda Partai Demokrat berusia 34 tahun, terpilih sebagai wali kota Muslim pertama dan sekaligus yang termuda di New York. Kemenangannya menandai perubahan besar dalam peta politik kota terbesar di Amerika Serikat itu, sekaligus memicu perdebatan ideologis di dalam partainya sendiri. Mamdani, yang sebelumnya dikenal sebagai anggota parlemen negara […]

  • Nusron Buka Suara Usai MK Batalkan Hak Guna Lahan di IKN 190 Tahun

    Nusron Buka Suara Usai MK Batalkan Hak Guna Lahan di IKN 190 Tahun

    • calendar_month Senin, 17 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, Strategynews.id- Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid buka suara soal Mahkamah Konstitusi ( MK ) membatalkan ketentuan pemberian hak guna lahan bagi para investor di Ibu Kota Negara ( IKN ) hingga 190 tahun. Nusron menekankan bersama Otorita IKN (OIKN) dan kementerian terkait lainnya segera melakukan koordinasi untuk harmonisasi […]

  • Sinergi Kementan dan TNI AD Kawal Optimasi Lahan Rawa 2025

    Sinergi Kementan dan TNI AD Kawal Optimasi Lahan Rawa 2025

    • calendar_month Selasa, 30 Sep 2025
    • account_circle Jamil F.J.
    • 0Komentar

    Bogor, Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian (Itjen Kementan) bersama Inspektorat Jenderal TNI Angkatan Darat (Itjen AD) perkuat kerja sama dalam mengawal pengembangan lahan rawa sebagai lahan potensial penyedia pangan masa depan. Upaya ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan MoU tahun 2024 yang bertujuan mendorong tercapainya swasembada pangan nasional. Plt. Inspektur Jenderal (Irjen) Kementan, Memet Darmawan, menyampaikan […]

  • Mengenal 12 Shio dalam Astrologi China, “Shio Kelinci Dikenal Sopan”

    Mengenal 12 Shio dalam Astrologi China, “Shio Kelinci Dikenal Sopan”

    • calendar_month Senin, 22 Sep 2025
    • account_circle Jamil F.J.
    • 0Komentar

    Dalam budaya Tionghoa, shio atau zodiak China menjadi bagian penting yang diyakini dapat memengaruhi kepribadian, relasi, hingga peruntungan seseorang. Berbeda dengan zodiak Barat yang dihitung berdasarkan bulan lahir, shio didasarkan pada tahun kelahiran dalam siklus 12 tahunan. Mengutip China Highlights, setiap tahun dalam kalender lunar diberi nama sesuai dengan salah satu dari 12 hewan. Ke-12 […]

expand_less