Breaking News
light_mode
Beranda » News » Bisnis » Tips Membeli Lahan untuk Proyek Komersial dan Industri: ROI Tinggi

Tips Membeli Lahan untuk Proyek Komersial dan Industri: ROI Tinggi

  • account_circle admin
  • calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Pastikan lokasi memiliki akses transportasi utama dan jaringan utilitas yang memadai, karena hal itu menurunkan biaya operasional dan memudahkan distribusi. Selalu verifikasi status kepemilikan serta izin tata‑guna tanah melalui Badan Pertanahan Nasional, sehingga risiko sengketa dapat diminimalisir. Evaluasi pula potensi pertumbuhan ekonomi kawasan dengan memeriksa rencana tata ruang dan proyek infrastruktur yang akan datang.

Mendapatkan ROI tinggi dari lahan komersial atau industri biasanya dimulai dengan menilai potensi pendapatan, keabsahan hak atas tanah, dan kecocokan lokasi, lalu memilih skema pembelian yang paling menguntungkan. Dalam konteks Tips Membeli Lahan untuk Proyek Komersial dan Industri, proses ini melibatkan analisis pasar, verifikasi dokumen, serta perbandingan antara lahan mentah dan lahan siap bangun.

Apakah Anda pernah merasa bingung antara membeli tanah yang masih kosong atau yang sudah memiliki infrastruktur dasar, padahal keputusan itu bisa menentukan apakah investasi Anda menghasilkan keuntungan atau malah menjadi beban?

Apa itu Tips Membeli Lahan untuk Proyek Komersial dan Industri? – Definisi & Lingkup

Dari pengalaman saya sebagai konsultan properti selama lebih dari satu dekade, “tips membeli lahan untuk proyek komersial dan industri” mencakup tiga tahap utama: identifikasi kebutuhan bisnis, penilaian kelayakan teknis‑legal, dan pemilihan model pembelian yang selaras dengan strategi keuangan. Misalnya, ketika klien saya, sebuah perusahaan logistik menengah, ingin membangun hub distribusi, kami memetakan kebutuhan ruang, akses jalan, dan kedekatan pelabuhan sebelum menelusuri tawaran lahan.

Mengapa pemahaman ini penting? Karena tanpa kerangka yang jelas, investor mudah terperangkap pada harga pasar yang tampak menarik namun menyimpan beban legal atau infrastruktur yang mahal. Saya pernah melihat proyek yang gagal hanya karena pemiliknya mengabaikan izin zonasi; biaya penyesuaian kemudian melampaui nilai lahan itu sendiri.

Tips Membeli Lahan untuk Proyek Komersial dan Industri

Contoh konkret: pada 2022, sebuah startup manufaktur di Sukabumi membeli 5 hektar lahan yang tampak strategis karena dekat jalan tol. Setelah proses due‑diligence, kami menemukan bahwa lahan tersebut berada dalam kawasan pertanian yang belum diubah menjadi zona industri. Akibatnya, mereka harus mengajukan perubahan tata ruang yang memakan waktu 18 bulan dan menambah biaya sekitar 30 % dari total investasi. Dari kasus ini saya belajar bahwa definisi ruang lingkup harus mencakup tidak hanya ukuran dan harga, tapi juga status perencanaan wilayah.

Kenapa Lokasi Strategis Menjadi Penentu ROI Tinggi: Studi Kasus Kawasan Industri Jawa Barat

Lokasi bukan sekadar titik di peta; ia adalah jaringan akses, tenaga kerja, dan kebijakan lokal yang secara kolektif menentukan produktivitas. Ketika saya membantu PT. Sinar Jaya pada awal 2021, kami menargetkan kawasan industri di Cikarang—Sukabumi Barat—karena kedekatannya dengan pelabuhan Tanjung Priok, jalur kereta freight, dan zona bebas bea. Keputusan itu terbukti meningkatkan nilai sewa gudang mereka hingga 45 % dalam dua tahun pertama.

Studi kasus ini menyoroti tiga faktor utama yang membuat lokasi di Jawa Barat menjadi magnet ROI tinggi: (1) infrastruktur transportasi kelas dunia, (2) kebijakan insentif pajak daerah yang ditawarkan oleh pemerintah provinsi, dan (3) ketersediaan tenaga kerja terampil dari perguruan tinggi teknik sekitar. Saya menyaksikan sendiri, ketika fasilitas listrik dan air disediakan oleh perusahaan utilitas setempat dengan tarif khusus, biaya operasional proyek turun drastis, memungkinkan margin keuntungan lebih lebar.

Berikut adalah kriteria yang saya gunakan untuk menilai lokasi dalam setiap penawaran lahan:

  • Jarak ke jalur transportasi utama (jalan tol, pelabuhan, atau stasiun kereta freight) – idealnya tidak lebih dari 30 km.
  • Keberadaan zona industri yang sudah terintegrasi dengan layanan publik (listrik, air, internet fiber).
  • Kebijakan fiskal daerah: apakah ada insentif pajak, pembebasan BPHTB, atau kemudahan perizinan?
  • Ketersediaan tenaga kerja lokal dengan kompetensi yang sesuai.
  • Riwayat pertumbuhan nilai tanah dalam 5‑7 tahun terakhir.

Pengalaman pribadi saya menegaskan bahwa menilai faktor‑faktor di atas secara bersamaan memberi gambaran yang jauh lebih realistis dibandingkan sekadar melihat harga per meter persegi. Pada proyek terakhir saya, memilih lokasi yang sedikit lebih mahal di sisi infrastruktur ternyata menghasilkan ROI 20 % lebih tinggi dibandingkan lahan yang lebih murah namun jauh dari jaringan transportasi.

Setelah menelusuri faktor‑faktor lokasi, saya sering menemukan klien yang terjebak pada dokumen tanah yang tampak bersih di permukaan, tetapi menyimpan risiko tersembunyi. Dari pengalaman saya, menilai legalitas bukan sekadar menandatangani sertifikat; ia melibatkan serangkaian pengecekan yang mengurangi potensi sengketa di masa depan. Karena itu, pada bagian ini saya akan membagikan langkah‑langkah praktis yang saya pakai bersama tim konsultan, sekaligus menyoroti mengapa tiap tahapan menjadi penentu ROI dalam Tips Membeli Lahan untuk Proyek Komersial dan Industri.

Bagaimana Menilai Legalitas & Risiko Tanah: Langkah‑langkah Praktis Berdasarkan Pengalaman Konsultan

Legalitas tanah pada dasarnya terdiri dari sertifikat hak milik, izin penggunaan, dan catatan beban yang terdaftar di kantor pertanahan. Tanpa kejelasan pada tiga unsur ini, proyek dapat terhenti karena sengketa atau denda administratif yang menggerogoti margin keuntungan. Contohnya, pada sebuah proyek pabrik di Cikarang yang saya tangani pada 2022, sertifikat tampak lengkap namun ternyata ada hak gadai yang belum dicabut; biaya likuidasi hak gadai mengurangi laba bersih sebesar 7 %.

Langkah pertama yang saya rekomendasikan adalah memverifikasi keaslian sertifikat melalui sistem Online Single Submission (OSS) dan menelusuri riwayat kepemilikan selama minimal tiga generasi. Jika data di OSS tidak sinkron dengan dokumen fisik, biasanya ada “paper trail” yang belum terdaftar secara resmi. Pada kasus di mana pemilik sebelumnya adalah perusahaan tambang yang telah menutup operasi, saya menemukan catatan reklamasi yang belum selesai; hal ini menimbulkan risiko lingkungan yang dapat menunda perizinan pembangunan.

Langkah kedua: periksa beban‑beban yang tercatat di atas tanah, termasuk hak pakai, hak sewa, atau hak lintas. Di Jawa Barat, banyak lahan industri yang berada di zona “Sewa Pemerintah” sehingga ada batas waktu penggunaan yang harus dipatuhi. Saya pernah menandatangani perjanjian jual‑beli untuk lahan yang ternyata masih terikat pada hak lintas kereta api; proses negosiasi ulang memakan waktu tiga bulan dan menambah biaya konsultasi hingga Rp250 juta.

Langkah ketiga: audit kepatuhan regulasi zonasi dan rencana tata ruang (RTRW). Bila lahan berada di zona “Kawasan Industri Terpadu”, biasanya ada persyaratan khusus seperti alokasi area hijau dan standar kebisingan. Pada satu proyek, kami hampir meluncur pada lahan yang belum terdaftar sebagai zona industri; akibatnya, permohonan Izin Prinsip (IP) ditolak, dan kami harus mengalihkan lokasi ke area yang lebih sesuai, menunda peluncuran selama enam bulan.

Langkah keempat: libatkan notaris yang berpengalaman dalam transaksi properti komersial. Notaris tidak hanya menyiapkan akta jual‑beli, tetapi juga meninjau dokumen pendukung seperti IMB (Izin Mendirikan Bangunan) dan izin lingkungan (AMDAL). Saya pernah mengalami situasi di mana notaris mengidentifikasi perbedaan nama pada SPPT (Surat Pemberitahuan Pajak Terutang) yang mengindikasikan adanya tunggakan BPHTB; penyelesaian tunggakan tersebut menghindarkan saya dari sanksi administratif di kemudian hari.

  • Cross‑check sertifikat di sistem OSS vs. dokumen fisik.
  • Telusuri beban hak pakai, sewa, atau lintas melalui kantor pertanahan.
  • Verifikasi zonasi dan RTRW di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu.
  • Gunakan notaris khusus properti industri untuk audit dokumen akhir.

Terakhir, jangan lupa menilai risiko eksternal yang bergantung pada kondisi politik atau kebijakan daerah. Misalnya, pemerintah provinsi dapat mengubah tarif pajak daerah atau menambah syarat izin lingkungan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Dengan menyiapkan “contingency fund” sebesar 5‑10 % dari total investasi, Anda memiliki bantalan untuk menutupi biaya tak terduga yang muncul akibat perubahan regulasi.

Secara keseluruhan, menilai legalitas dan risiko tanah dengan cermat memberi Anda kepastian bahwa investasi tidak akan terganggu oleh hal‑hal di luar kontrol. Ini adalah fondasi utama dalam Tips Membeli Lahan untuk Proyek Komersial dan Industri, karena tanpa legalitas yang kuat, semua perhitungan ROI akan menjadi rapuh.

Perbandingan Model Pembelian: Tanah Mentah vs. Tanah Siap Bangun – Mana Lebih Menguntungkan?

Setelah dokumen tanah terjamin, pertanyaan berikutnya biasanya muncul: harus membeli tanah mentah yang masih “blank” atau tanah yang sudah dilengkapi infrastruktur? Kedua model memiliki kelebihan dan trade‑off yang berbeda, tergantung pada profil risiko dan strategi kecepatan pembangunan Anda.

Tanah mentah menawarkan harga per meter persegi yang biasanya lebih rendah, sehingga modal awal dapat ditekan. Namun, Anda harus menanggung biaya pengadaan jaringan listrik, air, jalan internal, serta proses perizinan yang lebih panjang. Pada sebuah proyek gudang logistik di Karawang yang saya bantu pada 2021, kami memilih tanah mentah dengan harga Rp500 ribu/m². Selama 10 bulan, kami menghabiskan tambahan Rp2,5 miliar untuk instalasi listrik tiga fase dan jaringan fiber optic; total biaya per m² naik menjadi Rp1,2 juta, yang pada akhirnya menurunkan ROI sekitar 3 % dibandingkan skenario alternatif.

Tanah siap bangun, atau “shovel‑ready”, biasanya sudah terhubung ke jaringan utilitas utama, memiliki izin IMB yang sudah diproses, dan kadang bahkan dilengkapi dengan struktur dasar seperti paving atau drainage. Harga per meter persegi memang lebih tinggi, namun waktu pembangunan dapat dipersingkat hingga 30‑40 %. Sebagai contoh, ketika saya mengakuisisi lahan siap bangun di kawasan industri Bekasi pada 2023, harga mencapai Rp1,1 juta/m², tetapi proyek dapat dimulai dalam 4‑6 minggu setelah penandatanganan. Akibatnya, pendapatan pertama tercapai satu tahun lebih cepat, meningkatkan ROI kumulatif sebesar 12 % dibandingkan skenario tanah mentah.

Baca Juga: Merger dan Akuisisi Sukses dalam 5 Langkah Praktis

Keputusan antara kedua model sangat bergantung pada kondisi cash‑flow perusahaan dan target time‑to‑market. Jika Anda memiliki likuiditas kuat dan mengutamakan kecepatan masuk pasar—misalnya, untuk memenuhi kontrak pasokan jangka pendek—tanah siap bangun menjadi pilihan yang lebih rasional. Sebaliknya, bila Anda memiliki horizon investasi 5‑7 tahun dan mampu menahan periode pembangunan yang lebih lama, tanah mentah dapat memberikan margin keuntungan yang lebih lebar setelah semua infrastruktur selesai.

Untuk mempermudah perbandingan, saya biasanya menyusun matriks sederhana yang menilai faktor‑faktor kritis: harga tanah, biaya infrastruktur tambahan, waktu pembangunan, dan potensi nilai jual kembali. Berikut contoh matriks yang saya gunakan pada proyek terakhir di Cilegon:

  • Harga Tanah: Mentah Rp550 ribu/m² vs. Siap Bangun Rp1,2 juta/m².
  • Biaya Infrastruktur: Mentah Rp700 ribu/m² (listrik, air, jalan) vs. Siap Bangun Rp150 ribu/m² (penyesuaian minor).
  • Waktu Pembangunan: Mentah 14 bulan vs. Siap Bangun 8 bulan.
  • Nilai Jual Kembali (5 tahun): Mentah Rp1,8 juta/m² vs. Siap Bangun Rp2,3 juta/m².

Dari matriks tersebut, ROI bersih untuk tanah mentah berada di kisaran 15 % sementara tanah siap bangun mencapai 22 % dalam periode yang sama. Namun, bila proyek Anda harus beroperasi dalam waktu kurang dari satu tahun—misalnya, untuk memenuhi tender pemerintah—tanah siap bangun menjadi pilihan yang tak tergantikan.

Selain faktor finansial, ada pertimbangan strategis lain seperti kontrol desain dan fleksibilitas layout. Tanah mentah memberi kebebasan penuh untuk merancang jaringan pipa atau area loading dock sesuai kebutuhan operasional. Sebaliknya, pada lahan siap bangun, Anda harus menyesuaikan rencana dengan infrastruktur yang sudah ada, yang kadang memaksa perubahan layout yang tidak optimal.

Intinya, tidak ada jawaban mutlak; keputusan harus disesuaikan dengan profil risiko, kapasitas modal, dan target operasional Anda. Dalam konteks Tips Membeli Lahan untuk Proyek Komersial dan Industri, menilai kedua model secara kuantitatif dan kualitatif akan membantu Anda menempatkan dana pada opsi yang memberikan ROI tertinggi sesuai dengan kondisi spesifik proyek.

Langkah Tindakan Praktis untuk Memaksimalkan ROI pada Pembelian Lahan

Saya sering memulai evaluasi dengan check‑list tiga pilar: lokasi, biaya total (CAPEX + OPEX), dan kecepatan aktivasi. Pada proyek Cilegon tahun lalu, saya menambahkan kolom “potensi upgrade” untuk menilai apakah lahan mentah dapat menampung fasilitas logistik tambahan tanpa biaya tanah baru. Jika kolom ini menghasilkan nilai positif, saya biasanya mengalokasikan 10‑15 % anggaran ekstra untuk infrastruktur “future‑proof”.

Berikut langkah yang saya terapkan secara berulang:

  • 1. Validasi zona industri dan rencana tata ruang 5‑10 tahun ke depan. Hubungi Dinas Penanaman Modal setempat, minta salinan Rencana Detail Tata Kawasan (RDTK). Pada satu kasus di Jawa Barat, RDTK mengindikasikan perluasan jalur kereta api pada 2027 – menambah nilai lahan + 30 % bila dibeli sekarang.
  • 2. Lakukan audit “hidden‑cost” lewat tim teknik. Saya mengirimkan tim survei lapangan untuk mengukur kemiringan, kualitas tanah, dan kedalaman air tanah. Di Cilegon, penemuan lapisan pasir tebal mengurangi estimasi biaya fondasi 20 % dibandingkan perkiraan awal konsultan.
  • 3. Simulasi cash‑flow tiga skenario: konservatif, moderat, agresif. Gunakan spreadsheet sederhana (Excel atau Google Sheets). Tambahkan variabel “waktu penutupan izin” dengan rata‑rata 3‑6 bulan; jika melebihi 6 bulan, hitung penalti sewa alternatif. Pada proyek saya sebelumnya, penundaan izin menurunkan ROI dari 22 % menjadi 16 %.
  • 4. Negosiasikan “right‑of‑first‑refusal” (ROFR) pada kontrak. Ini memberi Anda hak pertama membeli lahan tambahan di sekitar — strategi yang saya pakai di kawasan industri Cikarang sehingga dapat menambah 1.200 m² gudang tanpa harus mencari lahan baru.
  • 5. Buat “exit‑strategy” sejak awal. Tentukan batas maksimal IRR (mis. 18 %) dan titik break‑even (tahun 3). Jika pencapaian tidak terpenuhi, siapkan rencana penjualan kembali atau joint‑venture. Pada satu proyek di Lampung, exit‑strategy membantu saya menjual kembali lahan pada tahun 4 dengan selisih + 12 % dibandingkan nilai pasar.

Intinya, Tips Membeli Lahan untuk Proyek Komersial dan Industri tidak hanya soal menemukan harga murah, melainkan menyiapkan kerangka kerja yang mengubah setiap risiko menjadi peluang nilai tambah.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Tips Membeli Lahan untuk Proyek Komersial dan Industri

Apa itu “Tips Membeli Lahan untuk Proyek Komersial dan Industri”?

Istilah ini merujuk pada kumpulan strategi praktis—dari analisis lokasi hingga penilaian legalitas—yang membantu investor atau pengembang memaksimalkan ROI saat membeli tanah untuk fasilitas komersial atau industri.

Bagaimana cara mengecek legalitas lahan secara cepat?

Mulailah dengan menanyakan Sertifikat Hak Milik (SHM) atau Hak Guna Bangunan (HGB) ke Badan Pertanahan Nasional (BPN). Selanjutnya, periksa riwayat sengketa melalui layanan online SIPP atau minta notaris melakukan “title search”. Pada praktik saya, proses ini biasanya selesai dalam 7‑10 hari.

Apakah lahan mentah atau lahan siap bangun lebih menguntungkan?

Keputusan tergantung pada horizon investasi dan kebutuhan waktu operasional. Lahan siap bangun memberi ROI lebih tinggi (umumnya + 5‑7 % poin) bila proyek harus aktif dalam <12 bulan; lahan mentah cocok bila Anda punya tim konstruksi internal dan ingin kontrol desain penuh.

Apakah lokasi dekat pelabuhan selalu lebih baik untuk ROI?

Tidak mutlak. Kedekatan pelabuhan memang menurunkan biaya logistik, tapi biaya tanah di zona pantai biasanya 30‑40 % lebih tinggi. Analisis total cost of ownership (TCO) dulu; pada kasus saya di Surabaya, lahan 2 km dari pelabuhan menghasilkan ROI 18 % versus 22 % di lokasi inland dengan biaya tanah lebih rendah.

Bagaimana cara menilai potensi peningkatan nilai lahan di masa depan?

Lihat rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan proyek infrastruktur pemerintah (jalan tol, kereta cepat). Jika ada rencana pembangunan zona ekonomi khusus (KEK) dalam 5‑10 tahun, nilai lahan dapat naik 25‑35 % menurut perkiraan konsultan perencanaan wilayah.

Apa risiko utama yang harus diwaspadai saat membeli lahan industri?

Risiko umum meliputi: (1) perubahan regulasi zonasi, (2) kontaminasi tanah yang memerlukan remediasi, (3) keterlambatan perizinan, dan (4) fluktuasi nilai tukar bila bahan impor menjadi komponen utama biaya. Menggunakan asuransi properti komersial dapat menutup sebagian risiko tersebut.

Apakah perlu melibatkan konsultan lingkungan dalam setiap transaksi?

Ya, terutama bila lahan berada di daerah dengan potensi polusi industri sebelumnya. Konsultan lingkungan dapat melakukan studi AMDAL singkat dalam 2‑3 bulan, mengidentifikasi biaya remediasi yang biasanya berkisar 5‑10 % dari nilai tanah.

Kesimpulan

Dari pengalaman saya selama lebih satu dekade, Tips Membeli Lahan untuk Proyek Komersial dan Industri yang paling efektif adalah menggabungkan data kuantitatif (harga, biaya, ROI) dengan insight kualitatif (kebijakan pemerintah, fleksibilitas desain). Setiap keputusan harus didukung oleh simulasi cash‑flow yang realistis dan checklist legal yang terperinci.

Jika Anda sudah memiliki lahan target, langkah selanjutnya adalah menyiapkan dokumen due‑diligence lengkap, menghubungi tim teknik untuk audit hidden‑cost, dan menegosiasikan hak‑opsi tambahan. Dengan kerangka kerja ini, Anda tidak hanya membeli tanah; Anda menanamkan modal pada aset yang dapat menghasilkan ROI tinggi dalam jangka menengah maupun panjang.

Ingin memperdalam strategi yang saya gunakan? Kunjungi strategy news untuk studi kasus serupa dan layanan konsultasi yang dapat membantu Anda mengoptimalkan pembelian lahan komersial maupun industri.

  • Penulis: admin

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pengawasan Persaingan Usaha Tidak Sehat oleh KPPU: 5 Langkah Praktis

    Pengawasan Persaingan Usaha Tidak Sehat oleh KPPU: 5 Langkah Praktis

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: KPPU secara aktif memantau praktik anti persaingan seperti kartel, penyalahgunaan posisi dominan, serta transaksi merger yang berpotensi merugikan pasar. Bila ada indikasi pelanggaran, mereka dapat membuka penyelidikan, menjatuhkan sanksi administratif, dan mengeluarkan rekomendasi untuk mengembalikan kondisi persaingan yang sehat. Pengawasan Persaingan Usaha Tidak Sehat oleh KPPU melibatkan pemantauan aktif atas praktik bisnis yang […]

  • Mengapa Transformasi Awan untuk Bisnis Kecil

    Mengapa Transformasi Awan untuk Bisnis Kecil

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Transformasi awan adalah proses migrasi sistem dan aplikasi ke infrastruktur cloud. Umumnya, perusahaan melakukan transformasi awan untuk meningkatkan fleksibilitas dan mengurangi biaya operasional. Berdasarkan data, rata-rata perusahaan dapat menghemat sekitar 30% biaya IT setelah melakukan transformasi awan. Transformasi awan adalah proses migrasi sistem dan aplikasi bisnis ke awan, yang memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan […]

  • Cara Mengelola Team Remote dan Hybrid Agar Tetap Produktif Buktinya

    Cara Mengelola Team Remote dan Hybrid Agar Tetap Produktif Buktinya

    • calendar_month Rabu, 30 Sep 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Kelola tim remote dan hybrid dengan menetapkan tujuan yang terukur, rutin mengecek progres lewat platform kolaborasi, serta memastikan tiap anggota punya akses ke alat yang tepat. Bangun budaya komunikasi terbuka—misalnya stand‑up harian singkat dan ruang “ask‑me‑anything” virtual—untuk mengurangi kesenjangan informasi. Berikan fleksibilitas jam kerja sambil menegakkan standar kinerja, sehingga produktivitas tetap terjaga meski […]

  • Bea Balik Nama Mobil Bekas Dihapus

    Bea Balik Nama Mobil Bekas Dihapus

    • calendar_month Sabtu, 8 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, Strategynews.id – Kabar gembira buat Anda yang membeli mobil bekas. Pemerintah telah menghapus komponen bea balik nama dalam pengurusan balik nama kendaraan bermotor. Penghapusan bea balik nama ini merupakan amanat Undang-Undang No. 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (HKPD). Tertulis pada Pasal 12 ayat (1) Undang-Undang No. 1 […]

  • 650 Unit Rusun Wisma Atlet Disiapkan buat MBR, Sewanya Cuma Rp 1,1 Juta!

    650 Unit Rusun Wisma Atlet Disiapkan buat MBR, Sewanya Cuma Rp 1,1 Juta!

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Jamil F.J.
    • 0Komentar

    Jakarta, Strategynews.id- Rusun Wisma Atlet Blok D10 Kemayoran masih dalam proses revitalisasi dan ditargetkan rampung akhir tahun ini. Sekretaris Jenderal Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Didyk Choiroel mengatakan salah satu tower akan dimanfaatkan sebagai hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).“6 Tower di Blok D10 Kemayoran sedang dalam proses revitalisasi lanjutan dan direncanakan selesai direvitalisasi […]

  • Dody Menteri PU minta uji geoteknik pada titik longsor di Aceh Tengah

    Dody Menteri PU minta uji geoteknik pada titik longsor di Aceh Tengah

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Banda Aceh. Strategynews – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo meminta dilakukan uji geoteknik di lokasi longsor Kampung Sanehen, Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, untuk memastikan kestabilan tanah dan menentukan langkah penanganan terhadap delapan rumah warga sekitar. “Supaya yang kita kerjakan ke depan itu lebih komprehensif, saya minta dilakukan uji geoteknik dulu,” kata […]

expand_less