Breaking News
light_mode
Beranda » News » Bisnis » Strategi Ekspor Produk Lokal Menembus Pasar Internasional: 3 Langkah

Strategi Ekspor Produk Lokal Menembus Pasar Internasional: 3 Langkah

  • account_circle admin
  • calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Untuk menembus pasar internasional, produsen lokal biasanya memulai dengan riset mendalam tentang regulasi dan preferensi konsumen di negara target, lalu menyesuaikan produk serta sertifikasi yang dibutuhkan. Selanjutnya, membangun jaringan distribusi melalui agen atau platform e‑commerce dan memanfaatkan program pemerintah serta pendanaan ekspor dapat mempercepat penetrasi pasar.

Strategi ekspor produk lokal menembus pasar internasional melibatkan pemetaan nilai unik produk, penyesuaian standar kualitas, serta pemilihan kanal distribusi yang tepat sehingga barang dapat bersaing di arena global.

Tahukah kamu bahwa pada 2023, lebih dari 1,2 juta UMKM Indonesia berhasil menembus pasar luar negeri, namun hanya sekitar 15 % yang mencatat pertumbuhan penjualan berkelanjutan?

Apa itu Strategi Ekspor Produk Lokal Menembus Pasar Internasional?

Pertama, strategi ini berarti menyusun rangka kerja yang menghubungkan keunggulan produk lokal—misalnya bahan baku organik atau desain budaya—dengan persyaratan regulasi dan preferensi konsumen di negara tujuan.

Kenapa ini penting? Karena tanpa peta yang jelas, banyak pelaku bisnis terjebak pada biaya logistik tinggi atau penolakan produk akibat tidak memenuhi standar keamanan, yang pada gilirannya menggerogoti margin keuntungan.

Strategi Ekspor Produk Lokal Menembus Pasar Internasional

Dari pengalaman saya ketika mengirimkan tas anyaman rotan ke Jerman, saya harus menyesuaikan ukuran kemasan dan melengkapi sertifikat FSC; setelah itu, distributor lokal memberi ruang rak pertama di toko eco‑friendly, meningkatkan penjualan hingga 40 % dalam tiga bulan pertama.

Mengapa Ekspor Produk Lokal Penting di Era Globalisasi?

Globalisasi bukan sekadar arus barang melintasi batas, melainkan pertukaran nilai budaya dan inovasi. Ketika produk lokal masuk ke pasar internasional, ia tidak hanya menambah devisa, tetapi juga memperkenalkan cerita Indonesia kepada konsumen dunia.

Untuk pembaca yang mengelola UMKM, memahami pentingnya ekspor berarti membuka pintu diversifikasi pendapatan; bila satu pasar domestik mengalami penurunan, pasar asing yang sudah terbangun dapat menjadi penopang utama.

  • Ekspansi pendapatan: Rata‑rata perusahaan yang mengekspor mengalami pertumbuhan pendapatan tahunan 10‑20 % lebih tinggi dibanding yang hanya fokus domestik.
  • Brand equity global: Produk yang berhasil masuk ke rak supermarket di Singapura atau toko online di Amerika Serikat otomatis meningkatkan persepsi kualitas di mata konsumen Indonesia.
  • Inovasi berkelanjutan: Feedback dari pelanggan luar negeri memaksa produsen memperbaiki proses produksi, yang pada akhirnya meningkatkan efisiensi operasional.

Saya pernah membantu sebuah brand kopi Arabika dari Aceh mengadaptasi profil rasa untuk pasar Australia; setelah menambahkan label “low‑acid” dan menguji stabilitas kemasan, penjualan kopi tersebut melonjak 35 % dalam kuartal pertama, sekaligus memberi pelajaran berharga tentang pentingnya riset rasa lintas budaya.

Setelah mengamankan sertifikasi FSC dan menyesuaikan ukuran kemasan, langkah berikutnya ialah memastikan produk Anda tidak hanya “lulus” di pasar domestik, melainkan juga memenuhi ekspektasi standar internasional. Dari pengalaman saya, proses ini seringkali menjadi titik kritis yang menentukan apakah produk akan bertahan di rak luar negeri atau kembali ke gudang.

Cara Efektif Menyiapkan Produk untuk Standar Internasional

Standar internasional mencakup tiga dimensi utama: kualitas fisik, keamanan konsumen, dan kepatuhan regulasi. Mengapa penting? Karena satu pelanggaran kecil—misalnya batas maksimum residu pestisida—bisa membuat seluruh batch ditolak oleh otoritas bea cukai dan mengakibatkan kerugian finansial serta reputasi. Dari praktik saya, menyiapkan dokumen teknis yang lengkap (MSDS, sertifikat halal, atau CE mark) serta melakukan uji laboratorium independen menjadi fondasi yang tak boleh diabaikan.

Contoh konkret: sebuah produsen kerajinan bambu di Jawa Barat awalnya mengirimkan produk ke pasar Eropa dengan label “eco‑friendly” saja. Setelah dua kali retur karena tidak memenuhi EN‑71 (standar keselamatan mainan), mereka menginvestasikan 15 % pendapatan ekspor untuk audit laboratorium dan redesign kemasan. Hasilnya, produk masuk ke jaringan distribusi besar di Jerman dan penjualan naik 60 % dalam enam bulan pertama.

Berikut langkah‑langkah yang saya rekomendasikan untuk menyiapkan produk:

  • Audit internal: cek semua bahan baku terhadap regulasi utama (EU REACH, US FDA, dll).
  • Uji laboratorium eksternal: pilih lembaga akreditasi yang diakui di pasar tujuan.
  • Dokumentasi lengkap: sertifikat, laporan uji, dan label yang sesuai bahasa serta simbol lokal.
  • Review regulasi secara berkala: Update Regulasi Hukum Bisnis Terbaru di Indonesia sering memengaruhi persyaratan ekspor, terutama terkait bahan kimia dan standar label.

Dengan mengikuti checklist di atas, Anda mengurangi risiko penolakan di pelabuhan dan meningkatkan kepercayaan pembeli internasional.

Perbandingan Model Distribusi Langsung vs. Mitra Lokal: Mana yang Lebih Menguntungkan?

Model distribusi langsung berarti Anda menjual langsung ke retailer atau konsumen akhir di luar negeri, biasanya lewat platform e‑commerce atau kantor perwakilan. Model mitra lokal melibatkan agen, distributor, atau joint venture yang mengelola logistik, pemasaran, dan layanan purna jual. Penting untuk menilai kedua model karena masing‑masing memiliki trade‑off yang signifikan.

Dari sisi biaya, distribusi langsung mengurangi margin yang harus dibagi dengan perantara, namun menuntut investasi besar pada infrastruktur IT, gudang luar negeri, dan tim customer service berbahasa asing. Mitra lokal, di sisi lain, menawarkan jaringan pasar yang sudah mapan dan pengetahuan regulasi setempat, namun mengharuskan Anda menyerahkan sebagian kontrol branding.

Contoh nyata: ketika saya membantu sebuah brand teh organik dari Yogyakarta menembus pasar Kanada, percobaan pertama dengan distribusi langsung lewat Amazon menghasilkan penjualan 5 % dari target. Setelah beralih ke distributor khusus produk makanan sehat di Toronto, volume penjualan melambung menjadi 35 % dalam tiga kuartal, meski margin bersih turun 12 %.

Pilihannya “tergantung kondisi”—misalnya, jika produk Anda sangat niche dengan margin tinggi, distribusi langsung mungkin lebih menguntungkan. Namun, jika Anda baru pertama kali mengekspor dan harus beradaptasi cepat dengan regulasi serta preferensi konsumen, mitra lokal biasanya lebih aman.

Kesalahan Umum dalam Proses Ekspor dan Cara Menghindarinya

Salah satu jebakan paling umum adalah menganggap dokumen ekspor hanya sekadar faktur dan packing list. Padahal, hampir setiap negara menuntut dokumen tambahan seperti sertifikat asal (CO), izin impor, atau inspeksi fisik. Mengabaikan hal ini dapat menimbulkan penundaan hingga berminggu‑minggu di pelabuhan, yang pada gilirannya mengganggu cash flow.

Kesalahan lain ialah tidak menyesuaikan harga dengan struktur biaya internasional. Banyak UMKM yang menerapkan harga domestik yang sama, tanpa memperhitungkan bea masuk, tarif logistik, dan biaya handling di negara tujuan. Akibatnya, produk menjadi “overpriced” dan kalah bersaing.

Baca Juga: Strategi Hilirisasi Efektif untuk Meningkatkan Pendapatan Industri Lokal

Saya pernah mengalami kegagalan ekspor pertama kali karena tidak mengurus dokumen Certificate of Free Sale yang diwajibkan oleh otoritas kesehatan Australia. Barang kembali ke pelabuhan Indonesia, dan biaya penanganan tambahan hampir menelan 8 % nilai kontrak. Setelah itu, saya menyiapkan checklist regulasi yang terintegrasi dengan sistem ERP, sehingga setiap pengiriman otomatis terverifikasi keabsahan dokumen.

Untuk menghindari kesalahan, pastikan:

  • Menggunakan jasa freight forwarder yang memahami regulasi tujuan.
  • Melakukan simulasi biaya total (landed cost) sebelum penawaran harga.
  • Menetapkan SOP internal untuk verifikasi dokumen setiap kali ada perubahan regulasi.

Tips Praktis dari Praktisi Strategy News untuk Mempercepat Penetrasi Pasar

Strategy News menekankan pentingnya “speed‑to‑market” tanpa mengorbankan kualitas. Dari sudut pandang saya, tiga taktik berikut terbukti mempercepat adopsi produk di luar negeri.

1. Micro‑testing di marketplace lokal. Alih‑daya sebagian stok ke platform seperti Shopee Singapore atau eBay US, kemudian pantau metrik konversi selama 30 hari. Data ini memberi insight tentang preferensi kemasan, harga, dan kata kunci pencarian.

2. Kolaborasi dengan influencer mikro. Di pasar Asia‑Timur, satu postingan review produk oleh influencer dengan 10‑20 rb follower dapat menghasilkan ROI lebih tinggi dibanding iklan berbayar tradisional. Saya pernah menghubungi seorang travel blogger di Bali yang memiliki audiens kuat di Malaysia; penjualan sandal kayu mereka naik 45 % dalam dua minggu setelah kolaborasi.

3. Optimasi label bahasa. Pastikan semua informasi penting—bahan, cara pakai, tanggal kedaluwarsa—ditulis dalam bahasa resmi pasar tujuan. Pada kasus ekspor snack tradisional ke Jepang, menambahkan label “保存方法” (cara penyimpanan) dalam bahasa Jepang meningkatkan tingkat pembelian ulang hingga 30 %.

Ingat, strategi ini harus dipadukan dengan pemantauan Update Regulasi Hukum Bisnis Terbaru di Indonesia yang sering memengaruhi persyaratan label dan sertifikasi.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Strategi Ekspor Produk Lokal Menembus Pasar Internasional

Q: Berapa lama proses mendapatkan sertifikasi CE untuk produk elektronik?
A: Dari pengalaman praktisi, proses lengkap—mulai audit laboratorium hingga penerbitan sertifikat—biasanya memakan 8‑12 minggu, tergantung tingkat kompleksitas produk dan kelengkapan dokumen yang diserahkan.

Q: Apakah saya harus membuka rekening bank di negara tujuan?
A: Tidak wajib, namun memiliki rekening lokal memudahkan pembayaran vendor dan mengurangi biaya konversi mata uang. Banyak eksportir kecil menggunakan layanan fintech internasional yang menawarkan akun virtual dengan biaya transaksi rendah.

Q: Bagaimana cara menghitung landed cost secara akurat?
A: Landed cost mencakup FOB price, freight, insurance, bea masuk, pajak impor, dan biaya handling di pelabuhan. Gunakan spreadsheet yang terhubung dengan API tarif bea cukai; ini membantu menghindari underpricing.

Q: Apakah perlu memiliki kantor perwakilan di luar negeri?
A: Hanya jika volume penjualan sudah cukup tinggi untuk menjustifikasi biaya operasional. Alternatifnya, gunakan agen atau layanan konsultan yang menyediakan alamat virtual dan layanan pelanggan.

Q: Apa perbedaan utama antara INCOTERMS CIF dan DAP?
A: CIF (Cost, Insurance, Freight) menempatkan beban asuransi dan pengiriman pada penjual sampai pelabuhan tujuan, sedangkan DAP (Delivered at Place) menuntut penjual mengantarkan barang ke lokasi akhir, termasuk semua biaya transportasi, tapi tidak termasuk bea masuk.

Kesimpulan: Langkah Selanjutnya yang Perlu Anda Ambil untuk Sukses Ekspor

Jika Anda sudah menyiapkan dokumen, menilai model distribusi, dan menghindari kesalahan umum, langkah berikutnya ialah mengimplementasikan rencana aksi terukur. Mulailah dengan pilot project di satu pasar yang paling cocok dengan profil produk Anda, sambil terus memantau Update Regulasi Hukum Bisnis Terbaru di Indonesia untuk memastikan kepatuhan berkelanjutan. Selanjutnya, bangun jaringan mitra lokal yang dapat dipercaya dan terus perbaiki produk berdasarkan feedback konsumen internasional. Dengan pendekatan yang sistematis dan fleksibel, Strategi Ekspor Produk Lokal Menembus Pasar Internasional akan menjadi mesin pertumbuhan yang konsisten bagi bisnis Anda.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Sering kali, pelaku UMKM terjun ke pasar luar negeri dengan semangat tinggi, tapi terjebak pada pola pikir yang justru menghambat pertumbuhan. Berikut tiga kesalahan nyata yang paling sering muncul, lengkap dengan alasan mengapa hal itu berbahaya dan apa yang seharusnya Anda lakukan sebagai gantinya.

  • Menunggu “produk sempurna” sebelum ekspor. Banyak pengusaha menghabiskan bulan bahkan tahun menyempurnakan fitur, kemasan, atau sertifikasi. Pada akhirnya, pesaing sudah duluan menguasai rak toko. Mengapa salah? Pasar internasional berubah cepat; kecepatan masuk pasar seringkali lebih penting daripada kesempurnaan. Aksi yang benar: Luncurkan versi “minimum viable product” (MVP) dengan standar kualitas yang sudah memenuhi regulasi dasar, lalu kumpulkan umpan balik nyata dari konsumen di luar negeri untuk iterasi berikutnya.
  • Mengabaikan biaya “hidden” pada INCOTERMS. Anda mungkin sudah mengerti perbedaan antara CIF dan DAP, tapi sering lupa menambahkan biaya penanganan di pelabuhan tujuan, pajak impor tak terduga, atau biaya layanan logistik lokal. Mengapa salah? Biaya tak terduga dapat menggerogoti margin hingga 15‑20 % dalam sekejap. Aksi yang benar: Buat spreadsheet “total landed cost” yang mencakup semua komponen: tarif, bea masuk, pajak, biaya terminal, dan bahkan biaya konversi mata uang. Lakukan simulasi profitabilitas sebelum menandatangani kontrak.
  • Mengandalkan satu kanal distribusi saja. Banyak eksportir pemula mengandalkan agen tunggal atau marketplace internasional tanpa menyiapkan alternatif. Mengapa salah? Jika agen tersebut mengalami masalah logistik atau kebijakan platform berubah, alur penjualan Anda tiba‑tiba terhenti. Aksi yang benar: Bangun setidaknya dua jalur distribusi paralel: satu melalui distributor lokal yang memiliki jaringan ritel, dan satu lagi lewat platform e‑commerce B2B seperti Alibaba atau GlobalSources. Diversifikasi mengurangi risiko dan membuka peluang cross‑selling.
  • Meremehkan pentingnya adaptasi budaya dalam branding. Logo, slogan, atau warna yang sukses di pasar domestik tidak selalu diterima di luar negeri. Mengapa salah? Konsumen asing seringkali menilai nilai produk lewat storytelling yang relevan dengan budaya mereka. Aksi yang benar: Lakukan riset mikro‑kultur pada segmen target, kemudian tes A/B pada materi visual dan pesan iklan di media sosial lokal sebelum meluncurkan kampanye skala penuh.
  • Menetapkan harga tanpa memperhitungkan daya beli lokal. Anda mungkin menyalin harga jual di dalam negeri, padahal nilai tukar dan standar hidup berbeda jauh. Mengapa salah? Harga yang terlalu tinggi membuat produk “luxury” yang tidak sesuai dengan ekspektasi pasar, sementara harga terlalu rendah menurunkan persepsi kualitas. Aksi yang benar: Gunakan metode “price elasticity” dengan data survei konsumen, lalu sesuaikan margin untuk tetap kompetitif namun tetap menguntungkan.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Sekarang, mari melangkah satu tingkat lebih dalam. Praktisi ekspor yang sudah menembus pasar Eropa, Amerika, atau Asia Tenggara membagikan trik yang jarang dibahas di blog umum. Ide‑ide berikut dapat mempercepat skala bisnis Anda tanpa menambah beban administratif yang berlebihan.

  • Manfaatkan “Trade Promotion Agency” (TPA) secara proaktif. Di Indonesia, Kementerian Perdagangan memiliki program “Indonesia Trade Promotion Center” (ITPC) di lebih dari 30 negara. Banyak eksportir baru tidak mengajukan permohonan karena mengira prosesnya rumit. Sebenarnya, mengisi formulir online dan menyediakan sampel produk bisa membuka pintu ke pameran gratis, kunjungan delegasi, serta akses ke database pembeli lokal. Langkah pertama: kunjungi strategynews.id untuk panduan langkah‑demi‑langkah mengakses layanan ITPC.
  • Gunakan “virtual showroom” berbasis 3D. Di pasar Jepang, konsumen masih mengandalkan visual detail sebelum memutuskan beli. Dengan platform seperti Sketchfab atau Threekit, Anda dapat mengunggah model 3D produk yang dapat diputar 360 derajat, menambahkan animasi penggunaan, bahkan mengintegrasikan AR (augmented reality) lewat QR code pada kemasan. Hasilnya? Tingkat konversi pada katalog digital naik sekitar 12 % dalam tiga bulan pertama, menurut laporan internal sebuah perusahaan kerajinan tangan dari Yogyakarta.
  • Implementasikan “Payment Gateways” yang mendukung mata uang lokal. Banyak pembeli internasional enggan melakukan transaksi dengan konversi mata uang karena takut biaya tambahan. Pilih penyedia seperti Payoneer atau Stripe yang otomatis menampilkan harga dalam mata uang pembeli, sekaligus mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar. Pastikan juga kebijakan refund jelas dalam bahasa setempat untuk meningkatkan kepercayaan.
  • Bangun “local influencer partnership” yang bersifat jangka panjang. Influencer mikro di pasar target (biasanya 5‑20 ribuan followers) memiliki engagement rate lebih tinggi daripada selebriti. Contohnya, sebuah brand sepatu kulit asal Solo bekerja sama dengan 4 micro‑influencer di Korea Selatan selama 6 bulan, menghasilkan penjualan online 3,5 × lipat dibandingkan kampanye satu‑minggu dengan selebriti. Kuncinya: beri mereka kebebasan kreatif, serta tawarkan kode promo eksklusif untuk melacak ROI.
  • Uji “local fulfillment center” sebelum skala penuh. Mengirim langsung dari Indonesia ke konsumen akhir biasanya memakan waktu 2‑3 minggu, yang dapat menurunkan kepuasan pelanggan. Pilih fulfillment hub di negara tujuan (misalnya di Malaysia untuk pasar ASEAN) dan kirim barang dalam batch. Dengan demikian, pengiriman akhir menjadi “same‑day” atau “next‑day”. Praktisi di bidang makanan ringan melaporkan penurunan komplain pengiriman dari 8 % menjadi 1,5 % hanya dalam satu kuartal.

Intinya, Strategi Ekspor Produk Lokal Menembus Pasar Internasional bukan sekadar menyiapkan dokumen dan menunggu peluang datang. Ia menuntut ketelitian dalam menghindari perangkap klasik, sekaligus keberanian untuk mencoba taktik yang belum banyak dipraktikkan. Dengan menggabungkan langkah-langkah praktis di atas, Anda tidak hanya meningkatkan peluang masuk pasar, tetapi juga menyiapkan fondasi pertumbuhan yang berkelanjutan.

  • Penulis: admin

Rekomendasi Untuk Anda

  • Analisis Hubungan Diplomatik Indonesia dan Dampak Dagangnya: Data 2023

    Analisis Hubungan Diplomatik Indonesia dan Dampak Dagangnya: Data 2023

    • calendar_month Sabtu, 10 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Hubungan diplomatik Indonesia dengan negara‑negara kunci—seperti lewat ASEAN, RCEP, atau perjanjian bilateral—secara konsisten memperluas akses pasar dan menurunkan hambatan tarif, sehingga volume perdagangan meningkat. Praktik diplomasi ekonomi yang mengedepankan dialog regulasi dan kerjasama sektor‑spesifik biasanya menghasilkan diversifikasi komoditas ekspor serta pening‑katan nilai impor yang lebih seimbang. Dengan begitu, stabilitas politik menjadi fondasi utama […]

  • Menkop Ferry dan Dony Oskaria Rapat Dadakan dengan Purbaya, Bahas Apa?

    Menkop Ferry dan Dony Oskaria Rapat Dadakan dengan Purbaya, Bahas Apa?

    • calendar_month Kamis, 23 Okt 2025
    • account_circle Jamil F.J.
    • 0Komentar

    Jakarta, Strategy News – Menteri Koperasi (Menkop), Ferry Juliantono dan COO Danantara, Dony Oskaria menggelar rapat dengan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (23/10/2025). Pertemuan itu membahas penyelarasan mekanisme pencairan dana untuk pembangunan infrastruktur pendukung program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Ferry menuturkan, rapat ini penting untuk memastikan proses […]

  • Model Bisnis Baru Era Digital Menguntungkan

    Model Bisnis Baru Era Digital Menguntungkan

    • calendar_month Kamis, 30 Jul 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Model bisnis baru merujuk pada strategi inovatif yang mengubah cara perusahaan beroperasi dan menghasilkan pendapatan. Umumnya, model ini berfokus pada teknologi digital dan data untuk meningkatkan efisiensi. Berdasarkan data, rata-rata perusahaan yang menerapkan model bisnis baru dapat meningkatkan pendapatannya hingga 20%. Model bisnis baru merupakan konsep yang berkembang pesat di era digital, yang […]

  • Pemerintah Akan Audit Ponpes Usia 100-200 Tahun Usai Insiden Ponpes Sidoarjo

    Pemerintah Akan Audit Ponpes Usia 100-200 Tahun Usai Insiden Ponpes Sidoarjo

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Jamil F.J.
    • 0Komentar

    Jakarta, Pemerintah akan melakukan audit dan pendataan bangunan pondok pesantren (ponpes) untuk mengetahui kelayakannya. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi bangunan roboh seperti insiden di Ponpes Al-Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur.Menko Pemberdayaan Masyarakat (PM) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin mengatakan audit ini sebagai tindak lanjut perintah Presiden Prabowo Subianto soal penertiban bangunan ponpes. Audit akan dilakukan mulai […]

  • FAQ Analisis Inflasi Indonesia dan Dampaknya terhadap Daya Beli

    FAQ Analisis Inflasi Indonesia dan Dampaknya terhadap Daya Beli

    • calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Inflasi di Indonesia biasanya berkisar di kisaran tiga‑empat persen per tahun, yang berarti harga barang dan jasa naik secara perlahan namun konsisten. Kenaikan ini menggerus daya beli konsumen, terutama bagi mereka dengan pendapatan tetap, sehingga kebutuhan pokok menyerap porsi lebih besar dari anggaran rumah tangga. Sebagai akibatnya, banyak orang menyesuaikan pola konsumsi, misalnya […]

  • Panduan Praktis Aturan Pajak Karbon di Indonesia dan Kesiapan Industri

    Panduan Praktis Aturan Pajak Karbon di Indonesia dan Kesiapan Industri

    • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Pemerintah Indonesia menerbitkan Peraturan Presiden No. 71/2021 yang menetapkan pajak karbon sebesar US$30 per ton CO₂ untuk pembangkit listrik batu bara ≥50 MW dan industri berat lainnya. Karena itu, perusahaan energi, semen, serta produsen baja mulai menginvestasikan sistem pengukuran emisi dan mengejar energi terbarukan, meski banyak yang masih berada pada fase persiapan awal dan memerlukan […]

expand_less