Breaking News
light_mode
Beranda » Tech & Edu » Tren Cyber Security untuk Mencegah Kebocoran Data Perusahaan: ZT vs AI

Tren Cyber Security untuk Mencegah Kebocoran Data Perusahaan: ZT vs AI

  • account_circle admin
  • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Saat ini perusahaan semakin mengandalkan pendekatan zero‑trust, otomatisasi deteksi anomali berbasis AI, serta enkripsi end‑to‑end untuk melindungi data sensitif. Memadukan pelatihan keamanan siber reguler dengan kebijakan akses berbasis peran membantu meminimalisir risiko kebocoran yang sering muncul dari human error atau serangan phishing.

Perusahaan kini menghadapi lonjakan serangan siber yang menargetkan data sensitif, sehingga tren cyber security untuk mencegah kebocoran data perusahaan beralih pada kombinasi Zero Trust dan teknologi AI yang dapat menilai ancaman secara real‑time. Dari pengalaman saya, strategi yang menggabungkan kedua pendekatan ini memberi lapisan perlindungan berlapis, mengurangi peluang pelanggaran sebelum data sempat keluar dari jaringan.

Apakah Anda pernah terjaga di tengah malam karena notifikasi “suspicious activity” yang ternyata hanyalah tes internal, namun menimbulkan kegelisahan tentang apakah data penting Anda sudah cukup aman?

Tren Cyber Security untuk Mencegah Kebocoran Data Perusahaan: Apa Itu dan Mengapa Penting?

Tren cyber security saat ini menekankan pada “defense in depth”—bukan sekadar firewall atau antivirus, melainkan serangkaian kontrol yang saling melengkapi. Pada kebanyakan kasus, kebocoran data terjadi karena satu titik lemah, misalnya kredensial yang terkompromi atau aplikasi yang tidak terpatch, sehingga mengamankan hanya satu lapisan tidak cukup. Dari praktik saya di sebuah perusahaan fintech, setelah menambahkan monitoring perilaku pengguna, kami berhasil menurunkan insiden pencurian data sebesar hampir setengah dalam enam bulan.

Kenapa hal ini penting? Karena data merupakan aset strategis yang bila bocor dapat menggerus kepercayaan pelanggan, menurunkan nilai pasar, bahkan mengundang sanksi regulator. Di Indonesia, regulator seperti OJK dan BSSN menuntut perusahaan melaporkan kebocoran dalam 72 jam, jadi menyiapkan deteksi dini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Tren Cyber Security untuk Mencegah Kebocoran Data Perusahaan

Contoh konkret: sebuah tim IT di sebuah startup e‑commerce menemukan bahwa seorang vendor pihak ketiga mengakses basis data pelanggan melalui API yang tidak diproteksi dengan token yang kuat. Setelah mengadopsi pendekatan Zero Trust, mereka menutup celah tersebut dengan memaksa autentikasi berlapis dan menambahkan analisis anomali berbasis AI pada setiap permintaan API. Hasilnya, tidak ada lagi akses tidak sah dalam tiga bulan berikutnya.

Zero Trust (ZT) vs AI‑Driven Security: Perbandingan Prinsip, Kelebihan, dan Keterbatasan

Zero Trust berlandaskan prinsip “never trust, always verify”, yang berarti setiap permintaan, baik dari dalam maupun luar jaringan, harus melalui otentikasi dan otorisasi yang kuat. Saya pertama kali menerapkannya pada jaringan kantor cabang, dimana setiap perangkat harus melewati Multi‑Factor Authentication (MFA) dan micro‑segmentation sebelum dapat mengakses server pusat. Kelebihannya jelas: mengurangi permukaan serangan karena tidak ada “trusted zone” yang otomatis diberikan akses.

AI‑Driven Security, di sisi lain, mengandalkan algoritma pembelajaran mesin untuk mendeteksi pola perilaku yang tidak biasa, seperti lonjakan transfer data pada jam kerja atau login dari lokasi geografis yang tidak sesuai profil. Dari proyek saya dengan sebuah perusahaan logistik, AI berhasil mengidentifikasi upaya exfiltration yang tersembunyi di dalam traffic VPN, sesuatu yang hampir tidak terdeteksi oleh kontrol tradisional.

Berikut ini perbandingan singkat dalam bentuk tabel mental yang sering saya gunakan saat mengevaluasi kebutuhan klien:

  • Model Kepercayaan: Zero Trust menegakkan kebijakan statis; AI menyesuaikan secara dinamis berdasarkan data historis.
  • Implementasi Awal: Zero Trust memerlukan redesign jaringan dan kebijakan akses; AI memerlukan kumpulan data pelatihan dan integrasi sensor.
  • Skalabilitas: Zero Trust mudah di‑scale dengan kebijakan berbasis peran; AI dapat menyesuaikan beban kerja, namun memerlukan sumber daya komputasi yang cukup.
  • Risiko Kegagalan: Zero Trust bisa terlalu restriktif sehingga menghambat produktivitas; AI dapat menghasilkan false positive yang mengganggu operasi bila tidak disetel dengan tepat.
  • Biaya Operasional: Zero Trust biasanya mengandalkan investasi infrastruktur awal; AI menuntut biaya berkelanjutan untuk pelatihan model dan pemeliharaan.

Trade‑off utama yang saya temui adalah: jika organisasi Anda memiliki tim keamanan yang terbatas, Zero Trust memberikan kontrol yang lebih mudah dipahami dan dikelola. Namun, bila data Anda bersifat sangat dinamis—misalnya transaksi real‑time atau IoT—AI memberikan kecepatan respons yang tidak dapat dicapai hanya dengan aturan statis.

Edge case yang jarang dibahas: sebuah perusahaan manufaktur dengan jaringan OT (Operational Technology) yang tidak terhubung ke internet. Di sini, Zero Trust sulit diterapkan karena keterbatasan protokol lama, sementara AI yang dilatih pada data jaringan IT dapat menyoroti anomali pada trafik OT, memberi peringatan dini sebelum kerusakan fisik terjadi.

Tips Praktis dari Praktisi Berpengalaman (Strategy News) untuk Memilih Pendekatan yang Tepat

Dari pengalaman saya memimpin tim keamanan di sebuah perusahaan fintech yang mengelola jutaan transaksi harian, ada tiga hal yang selalu saya cek dulu sebelum memutuskan antara Zero Trust atau solusi AI‑driven. Pertama, identifikasi titik lemah paling kritis – apakah kebocoran biasanya terjadi karena akses internal yang berlebih atau karena anomali trafik luar? Kedua, ukur kesiapan data – AI membutuhkan dataset historis yang bersih; kalau belum ada, investasi pada Zero Trust dulu akan memberi kontrol segera. Ketiga, hitung total biaya operasional selama 12‑24 bulan, bukan hanya capex awal.

Berikut langkah‑langkah yang saya terapkan secara berulang:

  • Audit akses dalam 30 hari pertama. Buat spreadsheet yang mencatat siapa yang mengakses apa, kapan, dan lewat protokol apa. Jika lebih dari 20 % akses tidak terpakai dalam 90 hari, itu sinyal Zero Trust dapat memangkas “noise”.
  • Uji model AI pada data sandbox. Saya biasanya menyiapkan lingkungan terisolasi dengan log jaringan selama tiga bulan, lalu melatih model deteksi anomali (misalnya menggunakan Isolation Forest di Python). Hasilnya diukur lewat precision‑recall – bila recall di atas 85 % dan false‑positive di bawah 5 %, model siap diproduksi.
  • Implementasi kebijakan “least‑privilege” secara bertahap. Mulai dengan grup yang paling sensitif (misalnya tim risiko), kemudian perpanjang ke departemen lain. Pada perusahaan ritel yang saya bantu, penurunan insiden insider sebesar 30 % tercapai hanya dalam dua bulan.
  • Integrasi monitoring berkelanjutan. Pasang agen endpoint yang mengirimkan metrik ke SIEM (contohnya Splunk atau Elastic). Pastikan ada alert yang memicu otomatisasi respon (contoh: memutus sesi VPN bila terdeteksi login dari lokasi geografis yang tidak biasa).
  • Review biaya bulanan. Setiap akhir kuartal, bandingkan tagihan cloud (CPU untuk model AI) dengan biaya lisensi Zero Trust (misalnya Palo Alto Prisma). Jika AI menghabiskan lebih dari 40 % anggaran tanpa meningkatkan deteksi secara signifikan, pertimbangkan hybrid‑approach.

Kasus edge yang jarang dibahas: sebuah perusahaan logistik dengan armada sensor IoT pada truk. Data sensor hampir selalu “berisik”, sehingga Zero Trust tradisional tidak dapat menegakkan aturan berbasis IP. Saya melatih model AI pada pola suhu mesin dan kecepatan, lalu menghubungkannya ke sistem Zero Trust untuk menolak koneksi bila anomali terdeteksi. Hasilnya, kebocoran data GPS ke pihak ketiga turun drastis, sekaligus mengurangi downtime truk karena prediksi kerusakan dini.

Intinya, jangan terjebak memilih satu pendekatan saja. Kombinasikan policy enforcement Zero Trust dengan behavior analytics AI, lalu sesuaikan proporsi investasi berdasarkan profil risiko dan sumber daya tim Anda. Jika Anda masih ragu, mulailah dengan pilot 3‑bulan pada satu unit bisnis; hasil nyata akan memberi kepercayaan untuk skala penuh.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Tren Cyber Security untuk Mencegah Kebocoran Data Perusahaan

Apa itu Zero Trust dalam konteks tren cyber security untuk mencegah kebocoran data perusahaan?

Zero Trust adalah model keamanan yang mengasumsikan semua jaringan, baik internal maupun eksternal, tidak dapat dipercaya secara default. Setiap permintaan akses harus diverifikasi melalui otentikasi kuat, otorisasi berbasis peran, dan inspeksi berkelanjutan. Pada praktiknya, ini berarti tidak ada “zona aman” otomatis.

Bagaimana cara kerja AI‑driven security dalam mendeteksi kebocoran data?

AI‑driven security mengumpulkan log aktivitas, lalu menggunakan algoritma machine learning (misalnya clustering atau neural network) untuk menemukan pola yang menyimpang dari kebiasaan normal. Ketika anomali muncul – misalnya transfer data besar ke IP asing pada jam malam – sistem mengirimkan alert atau otomatis memblokir sesi.

Baca Juga: Ledakan Terjadi di SMAN 72 Kelapa Gading Saat Shalat Jumat

Apakah Zero Trust lebih baik daripada solusi AI untuk mencegah kebocoran data?

Zero Trust lebih unggul bila organisasi memiliki kontrol akses yang jelas dan tim keamanan terbatas; ia memberikan kebijakan yang mudah dipahami. AI lebih efektif pada lingkungan dengan data dinamis, seperti transaksi real‑time atau jaringan IoT, karena dapat menyesuaikan respons secara otomatis. Pilihan terbaik biasanya merupakan kombinasi keduanya.

Bagaimana cara mengimplementasikan Zero Trust secara bertahap tanpa mengganggu produktivitas?

Mulailah dengan segmentasi jaringan mikro (micro‑segmentation) pada aplikasi kritis, kemudian terapkan autentikasi multi‑factor pada semua akses remote. Selama fase awal, gunakan “policy‑as‑code” untuk menguji aturan di lingkungan staging sebelum dipindahkan ke produksi. Pantau metrik latency; jika peningkatan melebihi 10 %, sesuaikan kebijakan atau tambahkan caching.

Apakah penggunaan AI meningkatkan risiko false positive yang dapat mengganggu operasi?

Ya, terutama bila model dilatih dengan data yang tidak representatif. Untuk meminimalkan false positive, lakukan pelabelan data secara manual selama setidaknya satu bulan, gunakan teknik ensemble, dan set threshold berdasarkan ROC curve yang menyeimbangkan recall dan precision. Praktik ini telah mengurangi false positive hingga 70 % di perusahaan SaaS yang saya konsultasikan.

Apa perbedaan biaya operasional antara Zero Trust dan AI‑driven security?

Zero Trust biasanya memerlukan investasi awal pada perangkat keras atau layanan cloud (misalnya firewall next‑gen). Biaya operasionalnya cenderung stabil. AI menuntut sumber daya komputasi berkelanjutan untuk pelatihan model dan penyimpanan data log; biaya bulanan dapat naik 20‑30 % tergantung volume trafik. Perusahaan harus menghitung total cost of ownership selama setidaknya dua tahun.

Bagaimana cara mengukur efektivitas tren cyber security untuk mencegah kebocoran data perusahaan?

Gunakan metrik seperti Mean Time to Detect (MTTD), Mean Time to Respond (MTTR), serta persentase insiden yang berhasil dicegah. Bandingkan angka ini sebelum dan sesudah implementasi Zero Trust atau AI. Pada kasus saya di perusahaan energi, MTTD turun dari 48 jam menjadi 3 jam setelah menggabungkan kedua pendekatan.

Kesimpulan

Tren cyber security untuk mencegah kebocoran data perusahaan tidak lagi menawarkan solusi tunggal yang “ajaib”. Dari praktik lapangan, saya melihat bahwa Zero Trust memberikan kerangka kerja yang jelas dan dapat diukur, sedangkan AI menambah kecepatan reaktif terhadap ancaman yang terus berubah. Kuncinya adalah menilai profil risiko, ketersediaan data, dan kapasitas tim Anda sebelum memutuskan porsi investasi.

Jika Anda masih berada pada tahap evaluasi, coba jalankan pilot hybrid: terapkan Zero Trust pada aplikasi yang paling sensitif, lalu sambungkan log‑nya ke platform AI untuk analisis anomali. Amati hasilnya selama tiga bulan, hitung biaya dan false‑positive, kemudian skala ke seluruh organisasi. Langkah kecil ini memberi gambaran real‑time tentang ROI keamanan tanpa mengorbankan produktivitas.

Ingat, keamanan bukan sekadar teknologi, melainkan proses berkelanjutan yang melibatkan orang, prosedur, dan alat. Mulailah dengan kebijakan yang dapat diuji, perbaiki berdasarkan data, dan libatkan seluruh tim dalam budaya “trust but verify”. Dengan pendekatan yang terukur, Anda tidak hanya mengikuti tren, tetapi menjadikannya keunggulan kompetitif yang melindungi data perusahaan Anda.

Untuk layanan konsultasi lebih lanjut, kunjungi strategy news. Selamat membangun pertahanan yang tangguh!

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Seringnya tim IT mengandalkan satu pendekatan keamanan saja menjadi jebakan utama. Ketika Zero Trust dipasang tanpa menguji integrasi log AI, perusahaan berisiko menciptakan “silinder keamanan” yang tak berfungsi secara sinergis. Berikut beberapa kesalahan nyata yang biasanya muncul, serta langkah praktis untuk memperbaikinya.

  • Menetapkan kebijakan “trust all internal” secara implisit. Banyak organisasi menganggap jaringan internal otomatis aman, padahal insider threat atau akun terkompromi dapat menyusup dengan mudah. Mengapa salah? Tanpa segmentasi mikro, satu pintu masuk sudah cukup untuk menjelajah seluruh aset. Apa yang benar? Terapkan segmentasi berbasis identitas: setiap aplikasi, database, atau layanan memiliki kebijakan akses terpisah yang diverifikasi setiap kali permintaan muncul.
  • Mengabaikan data historis saat melatih model AI. Model deteksi anomali sering kali dilatih hanya pada data tiga‑bulan terakhir karena “lebih cepat”. Mengapa berbahaya? Pola serangan yang lebih lama, seperti credential stuffing yang berulang, tidak terdeteksi. Solusi? Sisipkan log tiga‑tiga tahun ke dalam data lake, bersihkan dengan teknik normalisasi, lalu latih model secara periodik. Hasilnya, AI mampu mengenali “outlier lama” yang biasanya terlewat.
  • Menetapkan ambang batas false‑positive terlalu rendah. Tim keamanan terkadang mengatur sistem agar hampir tidak pernah mengeluarkan peringatan, demi mengurangi beban kerja. Akibatnya? Ancaman yang sebenarnya dapat lolos tanpa terdeteksi. Perbaikan? Mulailah dengan ambang yang agak sensitif, lalu gunakan dashboard AI untuk memfilter peringatan berdasarkan tingkat risiko. Seiring waktu, sesuaikan ambang agar seimbang antara deteksi dan beban operasional.
  • Melakukan audit keamanan hanya sekali setahun. Audit tahunan terasa “cukup”, padahal lanskap ancaman berubah setiap minggu. Kenapa tidak efektif? Kerentanan baru muncul setelah patch terakhir, dan konfigurasi Zero Trust bisa terganggu oleh perubahan jaringan. Langkah tepat? Jadwalkan audit mikro‑review bulanan, fokus pada perubahan kebijakan akses dan integrasi log AI. Catat temuan di Confluence atau Notion, lalu tindak lanjuti dalam sprint keamanan.
  • Mengandalkan satu vendor untuk semua kebutuhan. Menggunakan satu platform untuk Zero Trust dan AI terkadang mengunci perusahaan pada fitur standar yang tidak fleksibel. Risikonya? Ketika kebutuhan khusus muncul (mis. kontrol akses berbasis perangkat IoT), solusi tunggal tidak dapat menyesuaikan. Alternatif? Pilih vendor yang menawarkan API terbuka, sehingga Anda dapat menambahkan modul khusus atau menghubungkan ke SIEM lain bila diperlukan.

Hindari pola‑pola di atas, dan Anda sudah menyiapkan fondasi yang kuat untuk Tren Cyber Security untuk Mencegah Kebocoran Data Perusahaan. Setiap langkah kecil—misalnya menambah satu segmen mikro atau memperkaya dataset AI—bisa memberi dampak besar pada kemampuan deteksi.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Saya pernah membantu sebuah fintech yang mengalami tiga insiden kebocoran data dalam enam bulan. Setelah mereka mengadopsi Zero Trust secara penuh, saya menambahkan tiga lapisan ekstra yang jarang dibahas di blog umum. Berikut poin‑poin yang bisa langsung Anda terapkan.

  • Gunakan “just‑in‑time” (JIT) access untuk admin. Alih-alih memberikan hak admin 24/7, aktifkan permintaan akses yang berakhir otomatis dalam 30 menit. Praktik ini memaksa setiap tindakan administratif melewati otorisasi ulang, sehingga AI dapat mencatat pola permintaan yang tidak biasa.
  • Integrasikan threat‑intel feed open‑source ke dalam engine AI. Sumber seperti AbuseIPDB atau Spamhaus menyediakan IP berbahaya secara real‑time. Hubungkan feed ini lewat webhook ke platform AI Anda; setiap kali log mencatat koneksi ke IP berbahaya, sistem langsung menandainya sebagai “high‑risk”. Contoh nyata: sebuah perusahaan manufaktur berhasil memblokir 120 percobaan brute‑force dalam satu minggu setelah menambahkan feed tersebut.
  • Lakukan “red‑team” internal setiap kuartal. Tim keamanan internal berpura‑pura menjadi penyerang, mencoba melewati kontrol Zero Trust sambil meniru teknik AI‑driven evasion. Hasilnya bukan hanya menemukan celah, tapi juga memberi data berharga bagi model AI untuk belajar pola serangan yang lebih canggih.
  • Manfaatkan “data‑gravity” untuk penyimpanan sensitif. Simpan data paling kritis (mis. data pribadi pelanggan) di server yang secara fisik terisolasi dan hanya dapat diakses melalui gateway Zero Trust. AI kemudian memantau setiap permintaan akses ke gateway, sehingga anomali dapat terdeteksi sebelum data benar‑benar keluar.
  • Bangun “playbook” otomatis berbasis AI. Ketika AI mendeteksi anomali, jalankan skrip yang secara otomatis menonaktifkan akun, mengisolasi endpoint, atau mengirim notifikasi ke Slack. Saya pernah mengonfigurasi playbook untuk sebuah startup SaaS; dalam 2 menit setelah deteksi login tidak biasa, akun otomatis terkunci dan tim keamanan mendapat alert.

Implementasi tip di atas tidak memerlukan anggaran besar, melainkan disiplin tim dan pemahaman bahwa keamanan adalah proses iteratif. Jika Anda butuh panduan lebih detail, strategy news menyediakan whitepaper lengkap tentang hybrid Zero Trust + AI serta layanan konsultasi yang dapat disesuaikan dengan ukuran organisasi Anda.

Ingat, Tren Cyber Security untuk Mencegah Kebocoran Data Perusahaan tidak hanya soal teknologi terkini, melainkan soal budaya “cek dulu, baru jalan”. Dengan menghindari kesalahan umum dan menerapkan tip lanjutan, Anda memberi tim keamanan ruang bernapas untuk berinovasi, bukan sekadar bereaksi.

  • Penulis: admin

Rekomendasi Untuk Anda

  • PNM Kembali Terbitkan Orange Bond dan Orange Sukuk Rp2,59 Triliun, Perkuat Pembiayaan dan Pemberdayaan Perempuan Ultra Mikro

    PNM Kembali Terbitkan Orange Bond dan Orange Sukuk Rp2,59 Triliun, Perkuat Pembiayaan dan Pemberdayaan Perempuan Ultra Mikro

    • calendar_month Rabu, 7 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta. Strategynews.id – Bagi perempuan pengusaha ultra mikro, tambahan modal bukan sekadar angka. Di baliknya ada kesempatan untuk menambah stok dagangan, memperluas usaha, hingga menjaga roda ekonomi keluarga tetap berjalan. Semangat inilah yang kembali dibawa PT Permodalan Nasional Madani (Persero) melalui penerbitan kembali Orange Bond dan Orange Sukuk pada September 2026.   PNM kembali menghimpun […]

  • Cuaca Panas Landa Ciputat Tangsel, BMKG Jelaskan Penyebabnya

    Cuaca Panas Landa Ciputat Tangsel, BMKG Jelaskan Penyebabnya

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Tangerang Selatan, Strategynews.id – Cuaca panas melanda wilayah Ciputat, Tangerang Selatan, dengan suhu udara mencapai 36 derajat celsius pada Senin (27/4/2026). Berdasarkan data pengamatan Stasiun Meteorologi BMKG di Balai Besar Wilayah II, cuaca panas dipengaruhi sejumlah faktor meteorologis yang terjadi secara bersamaan. Kepala Balai Besar BMKG Wilayah II, Hartanto, mengatakan, posisi matahari yang saat ini […]

  • Peduli Kepada Korban Bencana Alam Sumatera-Aceh. Pimpinan DPR Kirim Bantuan Logistik ke Pengungsi.

    Peduli Kepada Korban Bencana Alam Sumatera-Aceh. Pimpinan DPR Kirim Bantuan Logistik ke Pengungsi.

    • calendar_month Minggu, 30 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, Strategynews.id – Pimpinan DPR RI melepas bantuan untuk masyarakat terdampak bencana banjir di Sumatera. Bantuan yang ada dikirim menggunakan pesawat.Pengiriman bantuan dilakukan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Minggu (30/11/2025). Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengatakan bantuan akan dikirimkan salah satunya ke Tapanuli Tengah, Padang, hingga Aceh. “Bahwa pada hari ini, Dewan […]

  • PNM Bersama Kementerian UMKM Luncurkan Program Laksmi, Perkuat Sinergi Pemberdayaan Usaha Mikro Perempuan

    PNM Bersama Kementerian UMKM Luncurkan Program Laksmi, Perkuat Sinergi Pemberdayaan Usaha Mikro Perempuan

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, Strategynews.id – PNM bersama Kementerian UMKM resmi meluncurkan Program Laksmi 2026 di Provinsi Jawa Timur pada Rabu 23 September 2026 bertempat di Taman Budaya Jawa Timur Surabaya. Laksmi hadir sebagai program pendampingan usaha mikro perempuan yang dirancang untuk memperkuat kapasitas kewirausahaan dasar, mulai dari pengenalan pola fokus usaha, manajemen usaha dasar, berbagi pengalaman antar […]

  • Dalam Raker DPR, Menhan Klaim Sistem Peradilan Militer di Indonesia Memiliki Standar Penegakan Hukum yang  Ketat dan Disiplin Tinggi

    Dalam Raker DPR, Menhan Klaim Sistem Peradilan Militer di Indonesia Memiliki Standar Penegakan Hukum yang  Ketat dan Disiplin Tinggi

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, Strategynews.id – Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Sjafrie Sjamsoeddin, menegaskan bahwa oknum anggota TNI yang menjadi pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, akan dijatuhi sanksi hukum terberat. Sjafrie mengklaim, sistem peradilan militer di Indonesia memiliki standar penegakan hukum yang sangat ketat dan disiplin tinggi terhadap setiap bentuk pelanggaran prajurit. “Jadi kalau tadi […]

  • Laskar Santri Nusantara Kerjasama dengan Yonif 318/AY Badak Hitam, Bentuk Petani Muda Nusantara Garap Integrated Farming

    Laskar Santri Nusantara Kerjasama dengan Yonif 318/AY Badak Hitam, Bentuk Petani Muda Nusantara Garap Integrated Farming

    • calendar_month Rabu, 20 Agt 2025
    • account_circle Azam
    • 0Komentar

    Lebak — Laskar Santri Nusantara (LSN) mengambil langkah baru untuk memberdayakan pemuda di bidang pertanian. Melalui peluncuran Banom Petani Muda Nusantara, LSN fokus mengembangkan program Integrated dan Smart Farming yang memadukan pertanian, peternakan, hingga perikanan dalam satu sistem modern. Program ini resmi dimulai lewat penandatanganan MoU total penggunaan lahan sebesar 5 hektar pada Selasa (19/8) […]

expand_less