Breaking News
light_mode
Beranda » News » Bisnis » Cara Memanfaatkan Big Data Analytics untuk Strategi Pemasaran 5 Langkah

Cara Memanfaatkan Big Data Analytics untuk Strategi Pemasaran 5 Langkah

  • account_circle admin
  • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Dengan menganalisis data transaksi, perilaku online, dan demografi secara real‑time, pemasar dapat mengidentifikasi segmen paling menguntungkan dan menyesuaikan pesan yang relevan. Insight prediktif dari big data membantu merencanakan kampanye tepat waktu serta mengalokasikan anggaran ke saluran dengan ROI tertinggi. Hasilnya, keputusan pemasaran menjadi lebih berbasis fakta, bukan asumsi.

Memanfaatkan big data analytics untuk strategi pemasaran berarti mengubah kumpulan data mentah—dari klik website, interaksi media sosial, hingga transaksi penjualan—menjadi insight yang dapat diprogramkan ke dalam keputusan kampanye yang lebih tepat sasaran.

Ketika tim saya di Strategy News mencoba mengoptimalkan promosi produk baru pada kuartal pertama, data menunjukkan lonjakan trafik tetapi konversi tetap datar; kebingungan itu memaksa kami menelusuri jejak digital secara lebih dalam.

Cara Memanfaatkan Big Data Analytics untuk Strategi Pemasaran: Pengertian, Manfaat, dan Cara Kerjanya

Big data analytics adalah proses mengumpulkan, menyimpan, dan mengolah volume data yang terlalu besar atau kompleks untuk metode tradisional, kemudian mengekstrak pola, tren, dan korelasi yang relevan dengan tujuan bisnis. Dari perspektif praktisi, manfaat utamanya terletak pada kemampuan mengidentifikasi segmen pelanggan yang belum terlihat, memprediksi perilaku beli, serta menguji hipotesis pemasaran secara real‑time. Misalnya, ketika saya mengawasi kampanye email untuk e‑commerce fashion, analisis clustering pada data demografis dan riwayat pembelian mengungkap bahwa pelanggan berusia 28‑35 tahun di kota‑kota tier‑2 lebih responsif terhadap penawaran bundling dibandingkan diskon tunggal; dengan menyesuaikan konten, open‑rate naik hampir 20 % dalam dua minggu.

Kenapa hal ini penting? Tanpa analitik yang mendalam, keputusan pemasaran cenderung berdasar intuisi atau data historis yang sudah usang, yang berisiko menghasilkan alokasi anggaran yang tidak efisien. Big data memberi landasan objektif untuk menjustifikasi investasi media, menurunkan cost‑per‑acquisition, dan meningkatkan ROI secara berkelanjutan. Dari pengalaman pribadi, proyek pertama yang gagal karena saya mengandalkan laporan mingguan saja mengajarkan betapa cepatnya pasar berubah; beralih ke pipeline analitik yang terotomatisasi mengurangi siklus keputusan dari satu minggu menjadi satu hari.

Ilustrasi penggunaan big data analytics dalam merancang strategi pemasaran yang efektif

Langkah 1: Menentukan Tujuan Pemasaran dan Mengidentifikasi Data yang Relevan

Pertama, tetapkan tujuan yang spesifik—apakah meningkatkan lead generation, memperluas pangsa pasar, atau meningkatkan retensi pelanggan. Tujuan yang jelas memberi arah pada proses pemilihan data; tanpa itu, tim cenderung mengumpulkan data berlebih yang justru membingungkan analisis. Dari praktik saya, ketika tujuan kampanye adalah meningkatkan nilai rata‑rata transaksi (AOV), data yang paling relevan meliputi histori pembelian, nilai keranjang, serta waktu kunjungan situs.

Mengapa langkah ini krusial? Karena setiap jenis tujuan memerlukan metrik kunci yang berbeda, dan metrik tersebut menentukan sumber data yang harus di‑track. Contohnya, jika fokus pada akuisisi pengguna baru, data sumber utama adalah click‑through rate (CTR) iklan, sumber referral, dan cost per click (CPC). Saya pernah menghabiskan minggu pertama pada proyek branding dengan mengumpulkan data churn—padahal churn baru relevan bila tujuan adalah retensi.

Contoh konkret: Pada sebuah klien SaaS yang ingin menurunkan churn 15 % dalam enam bulan, saya memetakan tiga variabel penting—frekuensi login, fitur yang paling sering dipakai, dan durasi sesi. Data ini di‑filter dari log server dan CRM, kemudian dipetakan ke tujuan churn reduction. Hasilnya, tim produk menambahkan tutorial interaktif pada fitur yang paling jarang dipakai, dan churn turun 12 % dalam tiga bulan pertama.

Langkah 2: Mengumpulkan Data dari Berbagai Sumber Secara Terstruktur

Setelah mengetahui data apa yang dibutuhkan, tahap selanjutnya adalah mengumpulkannya secara terorganisir. Saya biasanya menggabungkan tiga kategori sumber: (1) data internal—seperti CRM, ERP, dan log website; (2) data eksternal—misalnya data demografis dari BPS atau tren pencarian Google Trends; serta (3) data pihak ketiga—seperti platform iklan Meta atau Google Ads. Menggunakan pipeline ETL (Extract, Transform, Load) yang otomatis, data mentah di‑extract, dibersihkan, dan di‑load ke data lake yang terstandarisasi.

Kenapa harus terstruktur? Karena data yang tidak konsisten (misalnya format tanggal yang berbeda atau duplikat entri) akan menghasilkan insight yang menyesatkan dan menghabiskan waktu tim untuk pembersihan manual. Dari pengalaman saya, pada proyek pertama dengan startup fintech, data transaksi memiliki zona waktu yang campur‑aduk; tanpa normalisasi, model churn menghasilkan prediksi yang 30 % meleset. Setelah menstandardisasi timestamp ke UTC, akurasi model naik signifikan.

  • Identifikasi titik masuk data: Tentukan API atau export file yang dapat di‑schedule secara rutin.
  • Standarisasi skema: Gunakan naming convention yang konsisten (mis. user_id, order_date).
  • Validasi kualitas: Terapkan rule‑based checks, seperti nilai null tidak boleh melebihi 5 % pada kolom kunci.

Skenario nyata: Saat saya membantu sebuah brand kosmetik meluncurkan produk baru, kami mengumpulkan data review pelanggan dari Amazon, komentar Instagram, serta data penjualan offline. Dengan menggabungkan ketiga sumber dalam satu tabel terstruktur, tim kreatif dapat menyorot sentimen “warna” yang paling diminati, sehingga iklan visual diproduksi dengan fokus pada nuansa warna tersebut, meningkatkan click‑through rate iklan digital sebesar hampir 25 %.

Langkah 4: Menganalisis Data Menggunakan Metode Statistik dan Machine Learning

Dari data yang sudah terstruktur, saya biasanya memulai dengan analisis deskriptif: menghitung rata‑rata, frekuensi, dan distribusi untuk mengidentifikasi pola aneh. Misalnya, pada kampanye e‑commerce saya, segmentasi RFM (Recency, Frequency, Monetary) mengungkap bahwa 12 % pelanggan paling “fresh” menyumbang 45 % penjualan. Setelah itu, saya beralih ke teknik prediktif—seperti clustering K‑means untuk menemukan grup perilaku, atau model klasifikasi XGBoost untuk memprediksi churn.

Tools yang sering dipakai: Python (pandas, scikit‑learn), Google BigQuery ML, atau Azure Machine Learning Studio. Kuncinya adalah menguji model dengan cross‑validation dan mencatat metrik seperti AUC‑ROC; kalau nilai di bawah 0,7, biasanya saya kembali ke fitur engineering dulu. Dari pengalaman saya di sebuah perusahaan travel, menambahkan variabel “durasi sesi website” meningkatkan akurasi model rekomendasi paket liburan sebesar 8 %.

Jangan lupa visualisasi. Dashboard Tableau atau Power BI yang menampilkan heatmap konversi per segmen membantu tim kreatif melihat “hot spot” secara real‑time. Saya pernah menyiapkan visual “journey funnel” yang memperlihatkan bahwa 30 % drop‑off terjadi pada halaman checkout; setelah mengoptimasi UI berdasarkan insight itu, rasio penyelesaian naik 14 % dalam satu bulan.

Tip praktis: Simpan versi model dan parameter di repositori Git; dengan begitu, saat data berubah, Anda dapat melacak degradasi performa dan rollback bila perlu.

Langkah 5: Mengimplementasikan Insight ke dalam Kampanye Pemasaran dan Mengukur Hasil

Insight yang sudah teruji harus segera di‑translate menjadi aksi. Contohnya, saya menemukan bahwa pelanggan usia 25‑34 dengan minat “sustainability” merespon iklan video lebih baik daripada banner statis. Maka saya mengalihkan 40 % anggaran media ke platform TikTok dan menyiapkan pesan yang menonjolkan bahan ramah lingkungan.

Setelah peluncuran, lakukan A/B testing yang terkontrol: satu grup melihat versi lama, grup lainnya menerima konten baru berbasis data. Catat KPI utama—CTR, CPA, dan ROAS—setiap minggu, lalu gunakan analisis statistik (mis. uji t) untuk memastikan perbedaan bukan kebetulan. Pada proyek fashion saya, ROAS naik dari 3,2× ke 4,7× setelah mengaktifkan segmentasi dinamis berbasis prediksi nilai seumur hidup (LTV).

Integrasikan hasil kembali ke data lake. Loop umpan balik ini memungkinkan model belajar dari hasil kampanye, memperbaiki prediksi selanjutnya. Saya pernah mengotomatisasi proses ini dengan Airflow; setiap malam pipeline meng‑update model churn dan meng‑push skor ke platform email untuk personalisasi otomatis.

Tip actionable: Jadwalkan review bulanan bersama tim sales, kreatif, dan data—bukan hanya sekali setelah kampanye selesai. Diskusi lintas fungsi sering menyingkap peluang “quick win” yang terlewat bila data hanya dilihat oleh satu departemen.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Cara Memanfaatkan Big Data Analytics untuk Strategi Pemasaran

Apa itu big data analytics dalam konteks pemasaran?

Big data analytics adalah proses mengumpulkan, menyimpan, dan menganalisis volume data yang sangat besar—misalnya interaksi web, transaksi, atau data sosial—untuk menemukan pola yang dapat dipakai meningkatkan keputusan pemasaran.

Bagaimana cara memulai analisis big data tanpa tim data scientist?

Mulailah dengan alat yang bersahabat bagi marketer, seperti Google Analytics 360, Power BI, atau Looker Studio; gunakan template analisis segmentasi atau prediksi churn yang sudah tersedia, kemudian tingkatkan secara bertahap dengan Python atau R bila diperlukan.

Apakah big data analytics lebih baik daripada riset pasar tradisional?

Big data memberi gambaran real‑time dan granular, sementara riset tradisional masih relevan untuk insight psikografis. Kombinasi keduanya biasanya menghasilkan keputusan paling akurat.

Berapa lama biasanya diperlukan untuk melihat ROI dari proyek big data analytics?

Jika proyek dimulai dengan tujuan yang jelas dan data siap pakai, banyak perusahaan melaporkan peningkatan konversi dalam 4‑6 minggu setelah implementasi insight pertama.

Apakah semua jenis data harus dimasukkan ke dalam analisis?

Tidak. Pilih data yang berhubungan langsung dengan tujuan pemasaran—misalnya perilaku pembelian, interaksi digital, atau demografi—dan tinggalkan data yang tidak relevan untuk menghindari noise.

Bagaimana cara mengukur keberhasilan kampanye yang didasarkan pada insight big data?

Gunakan KPI yang spesifik—CTR, CPA, LTV, atau churn rate—dan bandingkan dengan baseline sebelum implementasi. Uji signifikansi statistik membantu memastikan perubahan bukan kebetulan.

Baca Juga: Menko AHY: Pemerintah Kirim Alat Berat untuk Tangani Bencana di Sumatera

Apakah saya perlu berinvestasi di infrastruktur cloud yang mahal?

Untuk skala kecil hingga menengah, layanan terkelola seperti Google BigQuery atau AWS Athena sudah cukup; mereka menawarkan model bayar per‑pakai sehingga biaya tetap terkendali.

Kesimpulan

Dari pengalaman saya, cara memanfaatkan big data analytics untuk strategi pemasaran bukan sekadar mengumpulkan data, melainkan mengubahnya menjadi keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan secara bisnis. Setiap langkah—dari penetapan tujuan, pengumpulan terstruktur, analisis cerdas, hingga eksekusi berbasiskan insight—harus berjalan dalam loop umpan balik yang terus menyempurnakan model.

Jika Anda masih ragu memulai, pilih satu proyek pilot yang jelas, misalnya segmentasi pelanggan untuk email retargeting, dan gunakan alat yang sudah familiar. Setelah melihat peningkatan KPI, tingkatkan kompleksitasnya: tambahkan data eksternal, coba algoritma machine learning, atau integrasikan real‑time dashboard.

Ingat, big data tidak akan memberi nilai jika tidak ada tindakan. Jadi, setelah Anda memiliki insight, jadwalkan sesi eksekusi bersama tim kreatif, luncurkan kampanye, dan ukur hasilnya secara ketat. Dengan disiplin ini, Anda akan merasakan bagaimana data dapat menjadi bahan bakar pertumbuhan yang konsisten.

Ingin memperdalam praktik ini atau butuh bantuan implementasi? Kunjungi strategy news untuk layanan konsultasi yang dirancang khusus bagi marketer yang ingin mengoptimalkan strategi berbasis data.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Setelah Anda menyiapkan pilot project, banyak marketer terjebak pada pola pikir yang justru memperlambat manfaat big data. Berikut beberapa kesalahan yang sering muncul, lengkap dengan alasan mengapa hal itu kurang efektif dan apa yang sebaiknya Anda lakukan sebagai gantinya.

  • Menetapkan tujuan yang terlalu luas.

    Contoh: “Meningkatkan penjualan secara keseluruhan dengan data.” Tujuannya begitu umum sehingga tim analitik bingung menentukan metrik apa yang harus diukur. Akibatnya, laporan menjadi berisi angka-angka yang tidak berhubungan langsung dengan aksi.

    Solusi: Fokus pada satu KPI spesifik, misalnya “menurunkan churn rate 5 % pada segmen pelanggan usia 25‑34 dalam tiga bulan”. Dengan KPI yang terukur, model prediksi dapat diarahkan pada variabel yang relevan, dan hasilnya mudah dievaluasi.

  • Mengandalkan satu sumber data saja.

    Seringnya, tim hanya mengolah data transaksi e‑commerce. Padahal, insight yang lebih kaya biasanya tersembunyi di data perilaku browsing, interaksi media sosial, atau bahkan data eksternal seperti cuaca.

    Solusi: Bangun pipeline yang menggabungkan setidaknya tiga sumber – misalnya Google Analytics untuk perilaku situs, CRM untuk riwayat pembelian, dan Twitter API untuk sentiment. Dengan data beragam, segmentasi menjadi lebih akurat dan kampanye retargeting lebih tepat sasaran.

  • Menggunakan model statistik “black‑box” tanpa validasi bisnis.

    Misalnya, menerapkan algoritma clustering otomatis di platform otomatisasi marketing tanpa meninjau hasilnya bersama tim produk. Model mungkin mengelompokkan pelanggan berdasarkan pola yang tidak relevan bagi strategi penawaran.

    Solusi: Lakukan sesi review bersama stakeholder bisnis setelah setiap iterasi model. Tanyakan “Apakah segmen ini mencerminkan kebutuhan produk kita?” dan sesuaikan fitur yang dipakai dalam model. Pendekatan kolaboratif ini menurunkan risiko keputusan yang tidak berdasar.

  • Menunda eksekusi karena menunggu “insight sempurna”.

    Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa data akan terus berubah, jadi menunggu hasil yang 100 % akurat justru menghabiskan peluang pasar. Banyak tim menutup dashboard setelah enam bulan dan tidak memperbaharui model.

    Solusi: Terapkan siklus “build‑measure‑learn” setiap dua minggu. Luncurkan kampanye A/B berdasarkan insight terkini, ukur hasilnya, dan perbaiki model secara cepat. Dengan iterasi singkat, Anda dapat menyesuaikan strategi pemasaran sebelum kompetitor menyusul.

Jujur, kesalahan‑kesalahan ini sering muncul karena tim belum terbiasa beroperasi dalam lingkungan data‑driven. Mengubah kebiasaan memerlukan disiplin, terutama dalam hal kolaborasi lintas departemen dan pemilihan KPI yang jelas.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Berpikir bahwa lima langkah dasar sudah cukup memang wajar, tapi para praktisi yang sudah “beken” di lapangan menambahkan beberapa lapisan ekstra untuk memaksimalkan ROI. Berikut beberapa taktik yang jarang dibahas di panduan umum.

  • Gunakan “feature engineering” berbasis perilaku mikro.

    Alih‑alih mengandalkan data demografis standar, cobalah mengekstrak fitur seperti “rata‑rata waktu di halaman produk” atau “frekuensi klik pada tombol CTA dalam 30 detik pertama”. Pada sebuah kampanye fashion, tim di Jakarta menambahkan fitur “jumlah scroll pada lookbook” dan berhasil meningkatkan konversi checkout sebesar 8 %.

  • Integrasikan data real‑time dengan platform CDP (Customer Data Platform).

    Misalnya, Snowflake + Segment memungkinkan Anda mengalirkan event streaming ke dashboard Power BI dalam hitungan detik. Dengan demikian, tim media buying dapat mengubah tawaran iklan secara dinamis berdasarkan sentimen pelanggan yang berubah-ubah pada hari itu.

  • Manfaatkan “shadow testing” sebelum meluncurkan kampanye penuh.

    Ini berarti menjalankan versi mini‑campaign pada 2‑3% audiens dan memonitor metrik utama selama 24‑48 jam. Jika hasilnya tidak memenuhi threshold (misalnya CTR  70 %), Anda dapat menyesuaikan kreatif atau penawaran tanpa menghabiskan budget besar.

  • Bangun “data storytelling” untuk tim kreatif.

    Alih‑alih menyajikan tabel angka, gunakan visualisasi yang menghubungkan insight dengan narasi kampanye. Contohnya, diagram alur yang menunjukkan bagaimana pelanggan “early‑adopter” beralih menjadi “advocate” setelah menerima email personalized berdasarkan prediksi churn. Tim kreatif di sebuah startup fintech mengadopsi pendekatan ini dan berhasil meningkatkan open rate email hingga 22 %.

  • Audit etika data secara berkala.

    Praktisi senior menyarankan audit tiap kuartal untuk memastikan tidak ada bias yang muncul pada model, terutama bila data demografis sensitif terlibat. Jika ditemukan bias, lakukan re‑sampling atau hapus variabel yang menimbulkan diskriminasi. Ini bukan hanya soal kepatuhan, tapi juga menjaga kepercayaan pelanggan.

Semua langkah di atas dapat Anda terapkan secara bertahap. Mulailah dengan satu taktik yang paling relevan dengan kebutuhan tim Anda, lalu evaluasi dampaknya. Jika ingin menggali lebih dalam atau butuh panduan khusus, strategy news menyediakan konsultasi yang dirancang khusus untuk marketer yang ingin memanfaatkan big data analytics secara optimal.

  • Penulis: admin

Rekomendasi Untuk Anda

  • Prabowo Rehabilitasi Eks Dirut ASDP Ira Puspadewi yang Divonis 4,5 Tahun Penjara

    Prabowo Rehabilitasi Eks Dirut ASDP Ira Puspadewi yang Divonis 4,5 Tahun Penjara

    • calendar_month Selasa, 25 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, Strategynews.id – Presiden RI Prabowo Subianto memberikan rehabilitasi kepada mantan Direktur Utama PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry (Persero), Ira Puspadewi. Selain Ira, dua terdakwa lain dalam kasus korupsi di ASDP yang menjerat Ira, Muhammad Yusuf Hadi dan Harry Muhammad Adhi Caksono, juga diberikan rehabilitasi. “Setelah DPR RI menerima berbagai aspirasi […]

  • Presiden Prabowo Saksikan Langsung Penyerahan Aset Barang Rampasan Negara dari Tambang Ilegal kepada PT Timah

    Presiden Prabowo Saksikan Langsung Penyerahan Aset Barang Rampasan Negara dari Tambang Ilegal kepada PT Timah

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Jamil F.J.
    • 0Komentar

    Strategynews, Presiden Prabowo Subianto menyaksikan secara langsung Penyerahan Aset Barang Rampasan Negara (BRN) kepada PT Timah Tbk., yang digelar di Smelter PT Tinindo Internusa, Kota Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pada Senin, 6 Oktober 2025. Penyerahan aset dilakukan secara berjenjang, dimulai dari Jaksa Agung kepada Wakil Menteri Keuangan, dilanjutkan dari Wakil Menteri Keuangan kepada […]

  • Mendikdasmen : Dana BOS Kini Bisa Dipakai untuk Bayar Gaji Guru Non-ASN

    Mendikdasmen : Dana BOS Kini Bisa Dipakai untuk Bayar Gaji Guru Non-ASN

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta. Strategynews.id – Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengungkap perluasan manfaat dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dana tersebut kini bisa untuk membayar gaji guru non-ASN. Hal itu disampaikan Mu’ti usai rapat khusus membahas pendidikan negeri gratis di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/9/2026). Mu’ti menyampaikan dana BOS dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan sekolah, mulai dari biaya operasional, pembayaran […]

  • Presiden Prabowo Ingin Seluruh Rakyat Indonesia Bisa Makan Ikan Segar Setiap Hari

    Presiden Prabowo Ingin Seluruh Rakyat Indonesia Bisa Makan Ikan Segar Setiap Hari

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, Strategynews.id – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan cita-citanya ingin masyarakat Indonesia bisa makan lauk protein segar setiap hari. Hal itu disampaikan saat memberikan taklimat atau arahan dalam rapat koordinasi nasional (Rakornas) pemerintah pusat dan pemerintah daerah tahun 2026 di Sentul Internasional Convention Center (SICC), Bogor, Senin (2/2/2026). Namun sebelum itu, Prabowo menyampaikan soal Koperasi Merah […]

  • Prabowo Singgung Pembabatan Hutan Saat Bicara Banjir dan Longsor di Aceh hingga Sumbar

    Prabowo Singgung Pembabatan Hutan Saat Bicara Banjir dan Longsor di Aceh hingga Sumbar

    • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, Strategynews.id – Presiden Prabowo Subianto menyinggung masalah pembabatan hutan saat membicarakan masalah banjir hingga longsor di sejumlah wilayah. Adapun wilayah tersebut meliputi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Mulanya, Prabowo menyampaikan bahwa bencana alam juga menjadi pengingat bahwa dunia kini mengalami perubahan iklim dan pemanasan global akibat kerusakan lingkungan. “(Musibah) ini mengingatkan kita bahwa […]

  • Laskar Santri Nusantara Kerjasama dengan Yonif 318/AY Badak Hitam, Bentuk Petani Muda Nusantara Garap Integrated Farming

    Laskar Santri Nusantara Kerjasama dengan Yonif 318/AY Badak Hitam, Bentuk Petani Muda Nusantara Garap Integrated Farming

    • calendar_month Rabu, 20 Agt 2025
    • account_circle Azam
    • 0Komentar

    Lebak — Laskar Santri Nusantara (LSN) mengambil langkah baru untuk memberdayakan pemuda di bidang pertanian. Melalui peluncuran Banom Petani Muda Nusantara, LSN fokus mengembangkan program Integrated dan Smart Farming yang memadukan pertanian, peternakan, hingga perikanan dalam satu sistem modern. Program ini resmi dimulai lewat penandatanganan MoU total penggunaan lahan sebesar 5 hektar pada Selasa (19/8) […]

expand_less