Virus Nipah Merebak di India, Sudah Terdeteksi di RI? Ini Kata Menkes.
- account_circle Redaksi
- calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, Strategynews.id – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin buka suara soal keberadaan virus Nipah yang tengah menjadi perhatian di India. Infeksi virus Nipah memiliki fatality rate yang tinggi, sehingga diperlukan kehati-hatian yang lebih baik.
Negara-negara di Asia, seperti Thailand, bahkan sudah mulai penerapan pengawasan yang lebih ketat di bandara. Menkes menegaskan pihaknya juga akan berjaga-jaga dan terus melakukan pemantauan apabila virus ini masuk ke Indonesia.
Menurut Kemenkes, hingga saat ini belum ada ditemukan kasus virus Nipah di Indonesia.
“Virus Nipah itu banyaknya di India sama Bangladesh. Ini memang fatality ratenya tinggi, dia berasal dari kelelawar, jadi kalau bisa makan buah yang kemungkinan tersentuh oleh kelelawar ini,” ujar Menkes ketika ditemui awak media di Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).
“Sampai sekarang sih belum kita amati di Indonesia,” sambungnya.
Ia mengimbau masyarakat yang berkunjung ke wilayah Asia Selatan untuk menjaga gaya hidup bersih dan sehat, serta mengenakan masker. Pihak Kemenkes juga akan mempersiapkan alat tes, untuk memeriksa apakah pasien terinfeksi Nipah atau tidak.
“Tapi kita sudah mempersiapkan, sudah sosialisasi, dan kita sudah siapin reagen PCR-nya. Sama kayak virus, tesnya pake PCR,” ungkap Menkes.
“Kalau bisa kalau mau travel ke Asia Selatan, India atau Bangladesh itu pakai masker,” tandasnya.
Pemerintah India bergerak cepat untuk menahan penyebaran virus Nipah setelah 5 kasus infeksi dikonfirmasi dan hampir 100 orang menjalani karantina di negara bagian Benggala Barat, India timur.
Otoritas setempat melaporkan tiga kasus baru pada awal pekan ini, menambah dua kasus sebelumnya yang dialami oleh dua perawat, seorang pria dan perempuan yang lebih dulu dinyatakan positif. Kedua perawat tersebut bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Barasat, dekat ibu kota negara bagian, Kolkata.
Menurut laporan kantor berita Press Trust of India, tiga kasus terbaru melibatkan seorang dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya.
Virus Nipah merupakan penyakit yang dapat menular antara hewan dan manusia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikannya sebagai patogen prioritas karena berpotensi memicu wabah besar. Hingga kini, belum tersedia vaksin untuk mencegah infeksi maupun obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini.
Pejabat pemerintah setempat menyebut hampir 100 orang telah diminta untuk menjalani karantina mandiri di rumah setelah kasus pertama terungkap pada Senin, 19 Januari 2026.
Pasien dengan infeksi terbaru saat ini dirawat di rumah sakit khusus penyakit menular di Beleghata, Kolkata timur. Sementara itu, dua pasien sebelumnya masih dirawat intensif di unit perawatan intensif (ICU) sebuah rumah sakit swasta.
“Kondisi perawat pria menunjukkan perbaikan, tetapi pasien perempuan masih dalam kondisi sangat kritis. Keduanya dirawat di ICCU (Intensive Coronary Care Unit),” ujar pejabat senior Dinas Kesehatan Benggala Barat, dikutip dari laman independent.co.uk.
Para ahli di India, negara yang hampir setiap tahun menghadapi kasus virus Nipah mengingatkan masyarakat akan sifat zoonosis virus ini, yakni penyakit yang dapat berpindah dari hewan ke manusia.
Rajeev Jayadevan, mantan presiden Asosiasi Medis India di Cochin, menjelaskan virus Nipah ditemukan pada beberapa spesies kelelawar. Menurutnya, penularan pada manusia tergolong jarang dan biasanya terjadi akibat limpahan penularan secara tidak sengaja dari hewan ke manusia, terutama melalui konsumsi buah yang terkontaminasi oleh kelelawar.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar